Foto Udara Membantu Meningkatkan Pendapatan Pajak di Nunukan


Staf DPPKAD Nunukan, Senin (7/4/2014) menunjukkan foto udara yang akan digunakan untuk pemetaan lahan di Pulau Nunukan.

Staf DPPKAD Nunukan, Senin (7/4/2014) menunjukkan foto udara yang akan digunakan untuk pemetaan lahan di Pulau Nunukan.

Bidang Pendapatan pada Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD) Nunukan akan memanfaatkan foto udara Pulau Nunukan untuk melakukan pemetaan terhadap pemanfaatan lahan.

Kepala Bidang Pendapatan DPPKAD Nunukan Wilson mengatakan, foto udara yang dikeluarkan Dinas Pekerjaan Umum Nunukan sangat membantu pihaknya, karena bisa mendapatkan kondisi pemanfaatan lahan yang lebih update. Sebelumnya DPPKAD mengandalkan citra satelit 2007.

“Ada potensi menaikkan pajak dengan kita menggunakan foto udara. Ini mempermudah kita dari sisi pendataan, misalnya pajak bisa dinaikkan,” ujarnya, Senin (7/4/2014).
Ia menjelaskan dengan menggunakan foto udara, tanah yang sebelumnya kosong saat mengurus Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), akan terlihat jika kemudian di atasnya telah berdiri bangunan.
“Saat menggunakan citra, tanah di sana masih kosong. Kita update terbaru ternyata status tanah ada bangunannya. Sehingga pajak yang semula nihil, akhirnya kena pajak,” ujarnya.
Dari foto udara ini juga akan terlihat tanah yang tumpang tindih, saat warga mendaftarkan PBB. “Kalau  tumpang tindih, kita tidak buatkan PBB. Misalnya ada garis atas nama siapa, tiba-tiba ada yang nunjuk lokasi yang sama. Kita tanyakan orangnya. Kita berusaha tidak mencatatkan SPPT yang ganda,” katanya.
Tentunya penghematan waktu juga bisa dilakukan karena tidak perlu lagi harus turun ke lapangan untuk mengecek langsung objek tanah yang didaftarkan. “Umpamanya orang daftar dengan keterangan tanah saya di sini. Untuk pengecekan kita perlu ke lapangan. Tetapi kalau digitasi, sudah mumpuni. Kita sudah cukup di sini,” katanya.
Ia mengatakan penggunaan foto udara memberikan banyak manfaat selain upaya meningkatkan pendapatan pajak. Foto udara juga bermanfaat saat pengurusan perizinan. Dari foto tersebut dapat terlihat jika bangunan melanggar garis sempadan bangunan (GSB).
“Kalau kita pakai foto udara bisa lebih update,” ujarnya.
Sebelumnya, pihaknya menggunakan citra satelit tahun 2007 yang diberikan Kantor Pajak Pratama Tarakan. Selain itu DPPKAD menggunakan citra satelit dari google map yang sebagian diolah sendiri.
Tentunya dengan menggunakan citra satelit ada kelemahan-kelemahan seperti wilayah tertentu tertutup awan karena gambar diambil dari atas awan. “Datanya tidak diupdate. Ini kita masih menggunakan 2007, jadi datanya masih yang lama,” ujarnya.
Berbeda dengan foto udara yang diambil dari bawah awan. “Foto udara ini diambil 2012, data terakhir Desember. Jadi dia update,” katanya.
Dipastikannya, saat ini DPPKAD belum menerapkan foto udara dimaksud.  Untuk mendapatkan data terupdate, pihaknya harus mendigitasi pemanfaatan lahan ke peta foto udara, dengan memindahkan data yang sudah ada di citra satelit sebelumnya. “Karena datanya sudah lengkap, karena kita beralih ke foto udara ini harus didigitasi kembali satu-satu,” ujarnya.
Diakui, ada kendala yang dihadapi saat akan mendigitasi dari citra satelit ke foto udara.  Koordinat antara peta citra satelit dengan foto udara menunjukkan adanya perbedaan. “Karena ada deviasi. Data citra ini sudah duluan, baru akan dipindahkan ke foto udara,” katanya.
Tentunya, Dinas Pekerjaan Umum Nunukan yang lebih faham untuk menyamakan data citra satelit dengan foto udara. “Karena mereka yang membuat,” ujarnya.
Pihaknya berencana meminta bantuan Dinas Pekerjaan Umum Nunukan. Hanya saja, saat ini Kejaksaan Negeri Nunukan sedang menyidik dugaan korupsi pembuatan foto udara dimaksud. “Biarlah teman-teman di PU konsentrasi dulu ke proses hukum,” ujarnya.
Meskipun belum memiliki teknisi khusus untuk mendigitasi foto udara dimaksud, pihaknya akan berupaya menerapkannya. “Untuk foto udara saya belum ada teknisi untuk digitasi sesuai dengan kebutuhan kita. Untuk menyamakan ini kita perlu orang. Tapi nanti kita pelan-pelan, main tarik-tarik saja,” ujarnya. (kaltim.tribunnews.com 07042014)
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s