Suku Tidung Liang Bunyu


Sebelum nama Sebatik, wilayah ini dinamakan Tanjung Lalang yakni daerah yang kini dinamakan Sungai Taiwan. Dahulu,belanda melakukan ekspedisi di Pulau Sebatik. Mereka menemukan ular besar sejenis Sanca di sebuah sungai yang kini bernama Sungai Taiwan. Masyarakat yang juga ikut serta dalam ekspedisi ular tersebut merupakan ular Sawah Batik yang kemudian nama tersebut diabadikan menjadi nama Sungai Sebatik. Nama inilah yang medasari penamaan dari Pulau Sebatik.

Liang sendiri berarti teluk dalam bahasa Tidung. Namun, dalam versi lain nama Liang Bunyu berasal dari sebuah pohon yang seperti mangga. Buah mangga tersebut berbuah terlalu banyak sehingga menjadi busuk. Sehingga kampung ini dinamakan Liang Bunyu yakni mangga busuk.

Lagenda Batu Lamampu.

Batu lamampu berarti batu itu timbul. Batu tersebut dipercayai oleh masyarakat sering berpindah-pindah. Sering dilakukan ritual di tempat tersebut seperti pemberian sesajen di bawah batu. Pengunjung biasanya melakukan ritual mengikat-ikat badan dengan maksud akan mendapatkan jodoh. Aki badulun yang dipercaya membawa batu tersebut dari tanah merah, Tarakan.

Legenda Aki Anus

legenda Aki Anus yang berasal dari Tanah Merah, Tarakan. Aki Anus merupakan seorang yang bermata empat. Ia merupakan seorang raja sangat kejam. Jika ia ingin makan nasi, maka berasnya harus dikupas, sehingga orang sekampung yang berusaha mengupas beras tersebut. Adiknya, seorang yang bermata satu berencana untuk membunuhnya. Ia membuat lungun (seperti kayu bulat yang dibelah tengahnya). Adiknya yang bermata satu berkata pada Aki Anus bahwa dunia sebentar lagi akan kiamat. Ini merupakan tempat untuk menyelamatkan diri dari kiamat. Kemudian Aki Anus pun masuk. Peti tersebut diikat rapat tanpa celah dengan rotan serta akar yang berlapis-lapis. Aki Anus pun tidak tahan sebab tidak ada udara yang masuk. Ia pun meminta pada adiknya untuk membuka ikatan lungun ini. Sayangnya, adiknya tidak mau membuka ikatan tersebut. Kemudian lungun tersebut pun berguling-guling hingga masuk ke sungai. Disungai pun berguling-guling hingga tujuh hari tujuh malam hingga sampai laut Filipina. Legenda ini menyiratkan bahwa dahulu kekuasaan kerajaan tidung memang sampai wilayah Filipina. Tidak heran sampai sekarang keturunan suku tidung sampai tersebar ke wilayah tersebut. dan di wilayah Malaysia juga ada perkampungan orang tidung.

Suku tidung memang tidak lagi memilih ketua adat berdasarkan keturunan. Ketua adat dipilih melalui forum adat. Orang yang memiliki kemampuan memimpin yang diangkat menjadi ketua adat. Kemampuan ini dibuktikan oleh salah satu tokoh tidung yaitu Pak Ibrahim. Sekitar tahun 1969, Timor dan Bugis saling bersitegang sampai membawa parang. Namun, tokoh dari tidung lah yang mendamaikan keduanya.

Saat mendamaikan kedua suku tersebut, Pak Ibrahim seraya berkata: “maaf, semuanya disini. kamu orang bugis, Orang bugis tidak bawa tanahnya dalam kompek ke sini. Kamu orang flores, orang Timor juga tidak bawa tanahnya dalam kompek ke sini. Ini tanah tidung, orang tidung juga tidak bisa ambil tanah ini. ”

Kemudian dari hasil perundingan ini disepakati pembagian tanah yakni di daerah Gunung Menangis merupakan hak suku timor sedangkan daerah Binalawan merupakan hak suku bugis.

Islam di Liang Bunyu

Suku tidung mengenal islam secara gaib melalui wali yang muncul di dekat danau. Wali tersebut lah yang memperkenalkan islam.

Cukup sering dilakukan ceramah keagamaan. Biasanya yang mengisi ceramah adalah seorang ustad keturunan dari suku tidung. Warga sendiri agak meyeleksi penceramah dari luar. Sebab, mereka masih memegang teguh agama Islam dari leluhur mereka. Mereka takut bahwa agama islam yang mereka anut akan tercampuri oleh aliran keagamaan dari luar. Banyak orang dari luar tidung yang mencoba membawakan syiar islam dari luar mengatakan bahwa agama islam leluhur mereka tidak sempurna. Masyarakatnya pun membalas bahwa, “Orang dulu pak, biar sembahyang pakai sarung dan pakai songkok peyot-peyot tidak ada yang masuk penjara. Agama sekarang saking sempurnanya ada orang yang di tembak mati. Orang dahulu agamanya gak sempurna tapi gak kena apa-apa sama polisi.”

Orang tidung sendiri memiliki prinsip tidak mau mengganggu dan tidak mau diganggu. “Jika tidak mengusik maka tidak akan kenapa-kenapa, namun jika mengusik maka akan turun untuk memotong”,

(Certa Rakyat)

Iklan

3 pemikiran pada “Suku Tidung Liang Bunyu

  1. Pak Aripuddinali
    Cerita yg bapak cantumkan di Sini Narasumbernya Siapa ?
    Dalam sejarah rakyat tidung Tidak Ada namanya AKI ANUS . yang ada itu AKI YAMUS atau MANTERI GUMBAN , YAKI APAT MATO .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s