Pilkada Nunukan Rame


20150504-edisi-376-wpKeputusannya, Pemilihan Bupati Nunukan jatuh pada 9 Desember 2015. Berarti pemilihannya dipercepat dari semestinya di kuartal pertama tahun 2016. Masa jabatan Bupati Drs H Basri dan wakil Hj Asmah Gani berakhir 31 Mei 2016.

Undang-undang Pemilihan Kepala Daerah Nomor 1 tahun 2015 sudah mengatur. Bunyinya begini; Gelombang pertama dilaksanakan Desember 2015 untuk yang Akhir Masa Jabatan (AMJ) 2015 dan semester pertama tahun 2016. Gelombang kedua dilaksanakan Februari 2017 untuk AMJ semester kedua tahun 2016 dan seluruh yang AMJ 2017. Gelombang ketiga dilaksanakan Juni 2018 untuk yang AMJ tahun 2018 dan AMJ 2019.

Nah, Kabupaten Nunukan masuk dalam lingkaran semester pertama itu. Keputusan undang-undang yang membuat kaget semua pihak. Terutama KPU (Komisi Pemilihan Umum) Nunukan. Karena pada penyusunan anggaran tahun 2014 lalu, tidak masuk dianggarkan untuk pesta demokrasi lokal itu.

Apa boleh buat. Semua sudah terjadwal. KPU harus menyesuaikan. Begitu juga Pemerintah Kabupaten Nunukan dan DPRD. KPU usulkan Rp47 miliar, tapi bupati bilang cuma punya dana Rp15 miliar. Itu diambil dari dana cadangan karena tak dianggarkan.

Pemkab, DPRD dan KPU masih bergulat soal anggaran pemilihan bupati pada 9 Desember 2015. Beda lagi dengan yang terjadi di masyarakat. Tokoh-tokoh politik mulai ancang-ancang untuk mengambil tempat sebagai peserta pemilihan bupati. Kursi Bupati Nunukan dan wakilnya, dianggap seksi untuk diperebutkan.

Calon-calon yang bermunculan. Pertama adalah Basri, selaku petahana yang sekarang berada di Partai Demokrat. Anggota TNI dengan pangkat Letnan Kolonel ini sudah mengutarakan keinginannya maju kembali.

Saingannya, kemungkinannya adalah Hj Asmah Gani yang sekarng menjadi wakilnya diperiode pertama. Tapi, kepastian berpisah itu belum ada. Karena Hj Asmah Gani adalah kader Golkar. Sementara partainya masih berkecamuk soal dualisme kepengurusan.

Di luar itu, sejumlah nama bermunculan memasang stempel sebagai bakal calon bupati atau wakil bupati. Ada nama Mashur yang berniat maju dari jalur independen. Kemudian Muhammad Nasir dari PKS (Partai Keadilan Sejahtera), Nardi Azis dari PBB (Partai Bulan Bintang) yang sudah menggadang berpasangan dengan sejawadnya Karel Sompotan.

Kemudian ada Lewi dari PDI Perjuangan, Danni Iskandar sampai Irwan Sabri dari Partai Demokrat. Dua nama terakhir ini sering disebut-sebut masyarakat, padahal di partai itu ada Basri yang istrinya adalah Ketua Partai Demokrat Nunukan.

Tidak mau ketinggalan. Dari trah Haji Abdul Hafid Achmad juga bakal menyorong calonnya. Hafid adalah Bupati Nunukan dua periode yang punya pengaruh massa besar. Dulu, Hafid yang bergabung dengan PBB (Partai Bulan Bintang) menjadikan partai itu sebagai pemenang Pemilu legislative. Sekarang, ketika bergabung dengan Partai Hanura, ia bisa meraih kursi wakil ketua di DPRD.

Haji Hafid rencananya mengusung anaknya yang sekarang jadi anggota DPRD Kaltara, Asmin Laura Hafid. Bahkan, bukti keseriusan, Laura sudah dipasangkan dengan Faridil Murad. Faridil adalah birokrat senior yang berpengalaman di pemerintahan.

Tensi politik mulai meninggi, ditambah munculnya negative campaign dan black campaign. Terutama di media-media social. Tapi, sejauh ini, suasana di Pulau Nunukan masih aman-aman saja. (beritakaltim.com – 03052015)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s