Harga Mati! PDIP Wajibkan Kadernya Maju Pilkada


Niko Hartono

Niko Hartono

DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) mewajibkan kadernya di Kabupaten Nunukan untuk maju pada Pemilihan Umum Kepala Daerah-Wakil Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Nunukan 2015.

Politisi PDIP Kabupaten Nunukan Niko Hartono mengatakan, partainya hanya mengincar posisi calon wakil bupati.

Namun tidak tertutup kemungkinan kader PDIP diusung sebagai calon bupati, dengan kesepakatan partai-partai koalisi.

“Tentunya ini sudah harga mati. Untuk kader-kader di Kabupaten Nunukan maju mendampingi atau menjadi calon wakil kepala daerah. Bisa nomor satu tergantung kesepakatan partai-partai. Ini mutlak,” ujar Wakil Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Nunukan ini.

Niko mengatakan, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDIP menjadikan Kabupaten Nunukan sebagai salah satu daerah khusus dari seluruh daerah yang mengikuti pilkada serentak tahun ini.

Pertimbangannya, PDIP Kabupaten Nunukan pernah mengukir sejarah memenangkan calon bupati dan wakil bupati pertama di daerah ini.

“Belajar dari pengalaman pertama ini, tentunya PDIP tidak mau kecolongan lagi seperti yang lalu-lalu. Sehingga dari DPP melihat yang lalu, kemudian mewajibkan untuk kader-kader itu maju,” ujarnya.

PDIP tak mematok kemenangan pada Pilkada Kabupaten Nunukan. Partai juga tidak menyaratkan, kader partai yang akan diusung menjadi calon wakil bupati dimaksud menjabat sebagai anggota DPRD atau tidak.

“Kalah menang itu nomor dua, yang penting maju dulu,” ujarnya.

Mantan Ketua DPC PDIP Kabupaten Nunukan ini mengatakan, saat partainya membuka penjaringan, ada dua pendaftar bakal calon bupati masing-masing Hajjah Asmin Laura Hafid dan Nardi Azis. Selain itu ada nama Faridil Murad dan Karel Sompotan yang mendaftar sebagai bakal calon wakil bupati.

Nantinya, semua pendaftar wajib mengikuti fit and profer test. Selanjutnya diadakan survei oleh tim independen yang ditunjuk DPP PDIP.

“Sehingga dari survei calon-calon, ini layak atau tidak?” ujarnya.

Dia menyadari, para pendaftar ini masing-masing telah memiliki pasangan. Laura akan berpasangan dengan Faridil sementara Nardi Azis berpasangan dengan Karel Sompotan. Menurutnya, untuk bisa menggunakan perahu PDIP, para calon bupati ini harus siap mengubah pasangannya dengan kader PDIP.

“Kemarin dilihat ada salah satu calon yang mendeklarasikan, yang telah mematok pasangan harga mati. Itu urusannya dia. Kalau tidak bisa bergandengan dengan PDIP, silakan kalau mau jalur independen. Ini mutlak,” ujarnya.

PDIP kemungkinan tidak ikut mengusung pasangan calon, jika nantinya dari pendaftar dimaksud tidak bersedia menggandeng kader PDIP.

PDIP memiliki dua kursi di DPRD Kabupaten Nunukan. Untuk bisa mengusung pasangan calon, partai atau gabungan partai disyaratkan memiliki minimal lima kursi.

Nardi Azis yang bakal diusung Partai Bulan Bintang (PBB) memiliki dua kursi di DPRD Kabupaten Nunukan. Sedangkan Laura yang bakal diusung Partai Hanura, memiliki tiga kursi di DPRD Kabupaten Nunukan.

“Untuk sementara ini kita menunggu karena kita tahu posisi kita cuma dua. Paling tidak melihat komunikasi yang ada. Kalau ada yang mau dipisahkan, silakan bergandengan dengan PDIP,” ujarnya.

Sumber: kaltim.tribunnews.com – 8 Mei 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s