Rp 200 perlembar Honor Siswa Pelipat Kertas Suara


20151124-lipat-suara

Warga dan para pelajar, Senin (23/11/2015) melipat surat suara di Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Nunukan

Duduk bersila, Rizki Sahyani (17) dengan teliti melipat surat suara yang ada di tangannya.

 

Satu persatu surat suara yang telah dilipatnya ditumpuk di depannya. Sambil melipat surat suara, sesekali siswi kelas XII Akuntansi B SMK Negeri 1 Nunukan ini mengajak teman di depan dan di sampingnya ngobrol.

Bertugas sebagai pelipat surat suara Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Nunukan 2015, Rizki yang masih mengenakan seragam sekolah harus meminta izin meninggalkan pelajaran di sekolah.

“Tadi sempat ke sekolah. Jam 10.30 kami di sini,” katanya, Senin (23/11/2015) siang ditemui di ruang rapat utama Kantor Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Nunukan.

Sebagai pemilih pemula, ini merupakan pengalaman pertama Rizki melihat langsung surat suara. “Baru pertama kali ini lihat langsung surat suara,” katanya.

Sama dengan Rizki, rekannya Chandra Setiawan (18) juga mengaku baru kali ini melihat langsung surat suara.

“Baru pertama kali lihat yang asli. Selama ini cuma lihat di televisi atau dibaliho. Karena ini juga kesempatan perdana saya mencoblos,” kata rekan sekelas Rizki ini.

Chandra mengaku pernah melihat langsung calon-calon yang terpampang di surat suara itu. “Sudah pernah lihat langsung semuanya,” ujarnya.

Keduanya berbaur dengan lebih 200 orang tenaga pelipat surat suara yang bertugas di Kantor KPU Kabupaten Nunukan

Ketua KPU Kabupaten Nunukan Hajjah Dewi Sari Bahtiar, mengatakan untuk melibatkan ratusan pelajar dimaksud, pihaknya telah meminta izin kepada Kepala Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Nunukan.

Sebagai pengganti lelah, para pelajar dimaksud akan mendapatkan upah Rp 200 per lembar surat suara.

“Upah itu total yang include dengan distribusi Rp 500 per lembar. Tetapi dipilah lagi untuk konsumsi dan lainnya. Jadi sekitar Rp 200 per lembar,” ujarnya.

Dewi mengatakan, dipilihnya para pelajar menjadi tenaga pelipat keras dimaksudkan untuk memberikan mereka pengetahuan di lapangan.

Sebagai pemilih pemula yang semuanya dipastikan telah berusia 17 tahun, para pelajar itu bisa praktik langsung agar memahami mekanisme pemilu mulai dari awal hingga pencoblosan. (*)

sumber: kaltim.tribunnews.com – 24 November 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s