50 Tahun Sekali di Kaltara Bisa Terjadi Gempa


20151224-posisi-gempa-kaltara

TARAKAN- Diprediksi setiap 50 tahun atau 100 tahun sekali, Kaltara akan dilanda gempa besar. Ya, gempa yang terjadi di Kaltara disebabkan oleh pergerakan sesar. Sesar aktif karena proses geologi alami.

“Memang sudah geologinya Kalimantan begitu. Di wilayah Kalimantan Utara ini ada 3 sesar aktif yang besar. Ini ada siklusnya. Seperti kalau di Aceh itu 250 tahun sekali. Estimasi untuk wilayah Kalimantan ini 50 tahun atau 100 tahun untuk pengumpulan energi yang kemudian dilepaskan lalu menyebabkan gempa,” jelasnya.

Walaupun telah terpasang program yang dapat membaca gempa lebih detail, Mujianto menegaskan bahwa yang dimiliki BMKG itu adalah alat monitoring, bukan prediksi. “Begitu ada getaran baru bisa dianalisa. Kalau tidak ada getaran tidak ada yang dianalisa. Kalau tsunami bisa diprediksi dengan dasar goncangan atau gempa yang kuat, tapi kalau gempa tidak ada,” ungkapnya.

Mujianto pun mengimbau dan mengharapkan agar masyarakat tetap waspada karena gempa-gempa susulan itu masih dapat terjadi. “Waspada dengan menghindari bangunan-bangunan yang tidak memungkinkan untuk ditinggali untuk sementara waktu, tidur di luar dulu. Kalau memang tidak layak di luar, tunggu sampai kondisi benar-benar stabil baru masuk rumah lagi,” ujarnya.

Terkait ada kemungkinan blok atau sesar di Kalimantan Utara bergerak naik atau turun, Mujianto belum dapat mengetahuinya. Namun berdasarkan catatan sejarah, pergeseran sesar ini pernah terjadi di sepanjang pantai utara, mulai dari Balikpapan sampai dengan Sangkulirang pada 1921 dan 1925 yang hingga menimbulkan tsunami.

“Jadi kita harus tetap mewaspadai. Gempa berlangsung atas kekuasaan Tuhan, kita hanya berusaha meminimalisir dampak atau tingkat kerugian materil dan korban jiwa,” tuturnya.

Kehadiran Mujianto di Tarakan juga untuk membantu memasang program yang dapat membaca dan menganalisa gempa bumi lebih detail di BMKG Tarakan. Selain itu, kehadirannya juga untuk memberikan wawasan tambahan kepada geofisikawan di BMKG Tarakan.

“Memang sudah SOP-nya. Kalau terjadi gempa yang merusak, maka harus geofisikawan yang melayani dan memberikan penjelasan. Di Kalimantan sendiri cuma di Balikpapan yang ada Geofisikawan,” ujarnya.

Sebanyak dua  program yang dibawa Mujianto, yakni SeisgramK12 dan SeiskomP3.  “Kalau ada perubahan-perubahan yang signifikan di amplitudo-nya maka berarti terjadi gempa. Dari sini nanti analisanya di sini,” kata Mujianto sembari menunjuk ke arah layar kepada Radar Tarakan.

Hasil dari pengamatan ini sendiri terintegasi secara online dengan BMKG Pusat. sehingga masyarakat yang ingin tahu dapat melihat di BMKG.co.id, tepatnya di menu gempa bumi. “Itu update terus untuk gempa yang dirasakan, baik di bawah 5,0 SR maupun di atas 5,0 SR. informasi itu juga langsung tersebar ke pejabat pengambil keputusan seperti BPBD dan sebagainya, melalui broadcast sistem untuk gempa dengan kekuatan di atas 5,0 SR,” bebernya.

Sumber: kaltara.prokal.co – 23 Desember 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s