Petugas Imigrasi Lengah, Dua Warga Malaysia Kabur Usai Vonis


20151224-2-warga-malaysia-kabur

Kepala Seksi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian Kantor Imigrasi Klas II Nunukan, Bimo Mardi Wibowo, Rabu (23/12/2015) menunjukkan foto dua warga negara Malaysia yang kabur.

Mohammad Zulkifli bin Ibrahim (25) dan Nasrul bin Ambo Tuo (21), Senin (21/12/2015) kabur dari ruang detensi Kantor Imigrasi Klas II Nunukan.

Kedua warga negara Malaysia ini kabur tak lama setelah menerima vonis bersalah karena masuk ke Indonesia tanpa melalui proses keimigrasian.

“Kaburnya Senin kemarin, sekitar 10.30. Kami lengah, dia memanfaatkan itu,” kata Kepala Seksi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian Kantor Imigrasi Klas II Nunukan, Bimo Mardi Wibowo, Rabu (23/12/2015).

Bimo mengatakan, Kantor Imigrasi Klas II Nunukan telah melakukan pencarian terutama pada jalur-jalur illegal maupun pelabuhan resmi.

Titik pencarian diantaranya di Pelabuhan Penyeberangan Sungai Jepun, Dermaga Tanjung, Dermaga Sungai Bolong, Dermaga Kandang Babi, Jembatan Bongkok, Pelabuhan Sungai Nyamuk, Dermaga Aji Kuning, Dermaga Tanjung Harapan serta Dermaga Lalaesalo.

“Kami juga menyebarkan foto-foto mereka. Mohon kalau ada masyarakat yang melihat langsung hubungi 081349310195. Itu langsung ke nomor pribadi saya,” katanya.

Kedua santri Pesantren Al Fattah, Temboro, Magetan, Jawa Timur itu diamankan Senin (12/10/2015) sore lalu di Sebatik.

Lebih dua bulan berada di ruang detensi Kantor Imigrasi Klas II Nunukan, keduanya pada Kamis (17/12/2015) lalu dinyatakan terbukti melanggar Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 tahun 2011 tentang Keimigrasian oleh Pengadilan Negeri Nunukan. Majelis hakim menyatakan keduanya terbukti masuk ke Indonesia tanpa melewati Pos Pemeriksaan.

“Vonis hakim empat bulan kurungan dan denda Rp 50 juta,” katanya.

Berbulan-bulan di ruang detensi Kantor Imigrasi Klas II Nunukan, kedunya selama ini sangat kooperatif.

Sejumlah warga Nunukan bahkan seringkali membesuk keduanya. Dengan kondisi seperti ini, pihak Imigrasi memberikan pelayanan kepada keduanya seperti tamu pada umumnya.

Kepercayaan ini juga yang membuat petugas tidak melakukan pengawasan khusus terhadap mereka.

Bimo mengakui, ruang detensi yang letakknya tidak jauh dari dapur tidak pernah terkunci. Sehingga tahanan dengan bebasnya bisa masuk dan keluar.

Namun kebebasan dan kepercayaan ini justru dimanfaatkan keduanya untuk melarikan diri.

”Bisa jadi ada tamu-tamu yang mengarahkan agar kabur saja,” katanya.

Saat kabur, keduanya diketahui tidak membawa seluruh barang-barang bawaan mereka. Hanya sebagian kecil barang yang sempat dibawa kabur.

Bimo mengatakan, semestinya setelah menerima vonis keduanya diserahkan kepada Lembaga Pemasyarakatan Klas II B Sungai Jepun.

”Harusnya memang Lapas yang menampung mereka setelah vonis. Tetapi ya itu tadi, kita tinggal menunggu waktu. Masalah administrasi dari pihak Lapas,” katanya. (*)

Sumber: kaltim.tribunnews.com – Rabu 23 Desember 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s