Sebatik Direbut, Lumbis Ogong Terancam Pisah NKRI


20160409-peta-lokasi-lumbis-ogong

Peta lokasi outstanding boundary problem di Kabupaten Nunukan.

Republik Indonesia dalam dilema. Di satu sisi posisi Republik Indonesia sangat kuat untuk memenangkan outstanding boundary problem (OBP) di Pulau Sebatik yang luasnya mencapai 87 hektare.

Namun di sisi lainnya, kemenangan itu justru akan membuat Sungai Sumantipal dan Sungai Sinapad seluas sekitar 154.000 hektare di Kecamatan Lumbis Ogong, terancam lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ketua Dewan Pendiri Pemuda Penaja Perbatasan RI, Lumbis S Sos menjelaskan, Nederlandsche dan Britsch Noord Borneo sebagaimana tertuang dalam traktat 1891 menyebutkan, patok batas triangulasi dipasang di punggung gunung (watershed) dari Gunung Jagoi di Kalimantan Barat hingga Sumantipal, Sinapad dan Sebatik di Kalimantan bagian utara.

Pihak penjajah pada saat itu menyadari tidak semua gunung menjadi watershed karena akan ada potongan sungai. Sehingga lahirlah traktat 1915 khusus persoalan Sungai Sumantipal dan Sungai Sinapad.

“Dimana selain watershed maka disepakati juga koordinat aliran sungai seperti di Sebatik mulai 4’10” dan di Lumbis Ogong 4’20”. Inilah yang menjadi menjadi sumber masalahnya,” ujarnya, Kamis (31/3/2016).

Berdasarkan survei pemetaan antara Republik Indonesia dan Malaysia pada 1975-1978 terjadi perbedaan penafsiran.

“Sehingga sesuai dengan pertemuan bilateral di Kota Kinabalu pada 1975 dan dilanjutkan di Bali maka disepakatilah beberapa sigmen batas negara akan dibicarakan kemudian,” ujarnya.

Diantaranya beberapa titik patok berada di Pulau Sebatik dan Sungai Sumantipal serta Sungai Sinapad.

“Patok B2700-B3500 dan C500-C700 di Kecamatan Lumbis Ogong yang sekarang dikenal dengan istilah OBP,” ujarnya.

Dia mengatakan, pihak Malaysia mengajukan agar pembicaraan dilakukan persigmen OBP. Artinya singmen OBP Pulau Sebatik sendiri dan Kecamatan Lumbis Ogong sendiri.

“Tetapi pihak Indonesia menolak dan ingin membicarakan OBP ini menjadi satu kesatuan,” ujarnya.

Dia mengatakan, Malaysia tentunya siap kalah di Pulau Sebatik. Tetapi jika traktat dan pasal yang sama digunakan, Republik Indonesia juga harus rela melepaskan Sumantipal-Sinapad.

“Itulah yang menjadi dilematis persoalan Sebatik dan Lumbis Ogong,” ujarnya.

Dia mengatakan pemerintah sebenarnya sudah mengetahui persoalan OBP Pulau Sebatik dan Kecamatan Lumbis Ogong yang saat ini dalam tahap perundingan.

“Dan diharapkan persoalan ini jangan dibesar-besarkan. Karena menurut dari traktat yang ada, posisi Indonesia lebih kuat untuk memenangkan OBP Sigmen Sebatik tetapi berdampak pada Sungai Sumantipal dan Sungai Sinapad yang lebih luas,” ujarnya.

Menurut Lumbis, tidak perlu menyoal patok perbatasan yang disebutkan bergeser karena longsor dan faktor lainnya.

“Karena walaupun digeser tidak memiliki pengaruh apa-apa. Karena titik koordinat setiap patok itu sudah ada,” ujarnya.

Yang menjadi persoalan sebenarnya, areal atau sungai-sungai yang belum disepakati patoknya.

“Semua itu sudah dalam tahap perundingan dan bulan ini perudingannya di Bali untuk menyepakati SOP penyelesaian dan belum masuk pada materi pokok persoalan,” ujarnya. (*)

Sumber: kaltim.tribunnews.com – Kamis 31 Maret 2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s