Penerbangan Subsidi Dianggap Bukan Solusi, Ini yang Dibutuhkan Warga Krayan


pesawatsusi-air-di-krayan

Pesawat maskapai penerbangan Susi Air di Bandara Yuvai Semaring, Long Bawan, Kecamatan Krayan.

Subsidi ongkos angkut (SOA) penumpang menuju ke sejumlah bandar udara di Krayan, Kabupaten Nunukan dinilai bukan solusi jangka panjang terhadap persoalan warga yang selama ini hanya bisa dijangkau dengan angkutan udara.

Kepala Bidang Perhubungan Udara pada Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kabupaten Nunukan, Sugianto Albert mengatakan, SOA penumpang jumlahnya sangat terbatas.

“Sehingga banyak warga yang tidak bisa terlayani dengan penerbangan bersubsidi,” ujarnya.

Belum lagi, kata dia, kebutuhan setiap tahunnya akan semakin meningkat. Padahal subsidi yang dianggarkan cenderung tidak mengalami kenaikan mengikuti perkembangan jumlah penduduk di wilayah Krayan.

“Dari tahun ke tahun jumlah penduduk bertambah, kebutuhan juga meningkat. Jadi kita tidak bisa mengandalkan subsidi terus menerus, ujarnya.

Albert malah berharap, pembangunan infrastruktur bandara di Krayan segera dilakukan.

“Solusi jangka panjangnya, memang perlu dibangun infrastruktur bandara yang memadai,” ujarnya.

Pembangunan bandar udara yang memadai perlu dilakukan di Krayan agar bisa didarati pesawat berbadan lebar dengan kapasitas penumpang yang lebih banyak.

“Kedepan kita berharap ada pesawat komersial dengan kapasitas penumpang yang lebih banyak, bisa masuk ke sana,” ujarnya.

Dengan masuknya pesawat komersial melayani penerbangan ke Krayan, tentu warga tidak lagi dihadapkan pada persoalan yang sama setiap tahunnya, menunggu proses tender penerbangan SOA penumpang yang seringkali terlambat.

“Kalau pesawat komersial, dia tidak harus menunggu seperti penerbangan subsidi. Jumlah penumpang yang diangkut juga lebih banyak. Sehingga masyarakat tidak tertumpuk karena harus menunggu penerbangan subsidi,” ujarnya.

Sebenarnya, kata Albert, pemerintah sudah pernah membangun bandar udara di Long Bawan, Kecamatan Krayan. Hanya saja, ada persoalan teknis sehingga Bandar Udara Yuvai Semaring belum bisa didarati pesawat berbadan besar.

“Yang kita mau, infrastruktur bandara dibangun sesuai dengan aturan,” ujarnya.

Selesainya proyek perpanjangan landasan pacu senilai Rp120 miliar di Bandar Udara Yuvai, awalnya diharapkan bisa didarati pesawat berbadan lebar jenis ATR, Boeing maupun Hercules.

Albert mengatakan, landasan pacu sepanjang 1.800 meter itu harusnya sudah bisa didarati pesawat berbadan lebar.

Hanya saja, karena pembangunannya tidak sesuai dengan spek, dikhawatirkan akan mengakibatkan kecelakaan.

“Berdasarkan hasil evaluasi dan verifikasi Kementerian Perhubungan pada sekitar Juli atau Agustus 2015 lalu, untuk saat ini tidak diizinkan oleh Inspektur Bandar Udara untuk didarati karena tidak sesuai speknya,” ujarnya.

Dia mengatakan, proyek yang dibangun melalui APBD Kalimantan Timur tahun 2012 untuk penambahan landasan pacu sepanjang 900 meter dengan lebar 23 meter lewat program ”Pembukaan Bandar Udara Perbatasan” ini dipastikan tidak memenuhi standar untuk didarati pesawat berbadan lebar.

“Jadi mau tidak mau tetap pesawat kecil yang ke sana. Dan ini harus disubsidi Pemerintah terus,” ujarnya. (*)

Sumber: kaltim.tribunnews.com – Minggu 3 Juli 2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s