Guru Demo Kepung Kantor Pengadilan Nunukan


Aksi Solidaritas, Ratusan Guru Bakal “Kepung” Pengadilan

bela-temannya-ratusan-guru-aksi-damai-di-pn01Tak kurang 600 guru di Kabupaten Nunukan, Selasa (30/8/2016) akan menggelar aksi di Kantor Pengadilan Negeri Nunukan.

Aksi ini untuk memberikan dukungan moril kepada rekannya yang diadili akibat diadukan orang tua murid.

Oknum guru tersebut dimejahijaukan setelah dianggap melakukan kekerasan terhadap muridnya pada April 2016 lalu di salah satu sekolah dasar.

“Aksi ini akan diikuti sekitar 600 guru. Dari kecamatan Nunukan, Kecamatan Nunukan Selatan, Kecamatan Sebatik, juga Kecamatan Lumbis,” kata Husin Manu, Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Nunukan, Senin (29/8/2016).

Husin mengatakan, direncanakan pukul 09.30 Wita, ratusan guru ini sudah menggelar aksi di Kantor Pengadilan Negeri Nunukan.

“Aksi ini untuk menunjukkan solidaritas para tenaga pendidik,” ujarnya.

Husin enggan menceritakan secara detail kasus kekerasan terhadap murid yang akhirnya menjerat salah seorang rekan seprofesinya itu.

Menurutnya, penjelasan akan disampaikan saat digelarnya sidang dakwaan, Selasa pagi.

“Nanti kami jelaskan semua di sana saja,” katanya.

Meskipun memastikan jika para peserta didik tetap mengikuti pelajaran, namun kemungkinan mereka akan dipulangkan lebih awal dari sekolah karena aksi itu.

“Tidak juga libur, tapi kami pulangkan lebih awal saja,” katanya.(kaltim.tribunnews 29082016)

 

Guru dan Keluarga Terdakwa Sudah Hadir di Pengadilan

01.guru-di-pn-nunukan

Para guru saat berada di Kantor Pengadilan Negeri Nunukan, Selasa (30/8/2016).

Ratusan guru dari Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Nunukan sejak pukul 09.00, Selasa (30/8/2016) berbondong-bondong menuju ke Kantor Pengadilan Negeri Nunukan sebagai aksi solidaritas terhadap rekannya Nober Boli yang akan menghadiri sidang dakwaan dalam kasus kekerasan terhadap murid.

Dari masing-masing sekolah dan ada yang berkumpul di alun-alun, mereka datang dengan menggunakan sepeda motor ke Kantor Pengadilan Negeri Nunukan di Jalan Ujang Dewa, Kecamatan Nunukan Selatan.

Adapula yang datang dengan mobil bak terbuka disertai sound system.

Dari pantauan Tribunkaltim.co di Kantor Pengadilan Negeri Nunukan selain para guru dan terdakwa, hadir pula Abdul Wahab Kiak, kerabat korban.

Ketua PGRI Kabupaten Nunukan, Husin Manu mengatakan, aksi dilakukan untuk menunjukkan solidaritas sesama tenaga pendidik. Hingga pukul 10.00, sidang belum juga dimulai. (kaltim.tribunnews 30082016)

Guru Tuntut Nober Divonis Bebas

Aksi ratusan guru

Aksi ratusan guru di depan Kantor Pengadilan Negeri Nunukan, Selasa (30/8/2016).

Ratusan guru dari Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Nunukan, Selasa (30/8/2016) menggelar aksi solidaritas di depan Kantor Pengadilan Negeri Nunukan.

Dengan membawa spanduk dan dikawal belasan polisi wanita, ratusan guru ini berjalan kaki sekitar 200 meter dari Lapangan Tri Brata Mapolres Nunukan menuju ke Kantor Pengadilan Negeri Nunukan.

Di depan Kantor Pengadilan Negeri Nunukan, para guru menggelar spanduk diantaranya bertuliskan “Mohon Ditinjau Kembali Undang-Undang Nomor 35 tahun 2015 tentang Perlindungan Anak”, “Junjung Tinggi Solidaritas dan Soliditas Sesama Anggota PGRI Kabupaten Nunukan.”

Ketua PGRI Kabupaten Nunukan, Husin Manu saat orasi menyebutkan, aksi ini dilakukan untuk menuntut agar Nober Boli dibebaskan pengadilan.

“Kita datang ke sini karena berharap dibebaskan. Karena kalau dihukum, guru-guru tidak akan tenang mendidik. Bisa-bisa kita hanya pengajaran saja, dia mau jungkir balik terserah,” ujarnya.

Pada kesempatan itu guru-guru juga meneriakkan agar anak yang tidak mau dididik untuk dikembalikan kepada orangtuanya.

Ketua Komite SD 005 Nunukan, Mansyur Rincing berharap Nober dapat diadili dengan seadil-adilnya. Dia mengingatkan fatwa Mahkamah Agung yang melarang mempidanakan guru saat sedang dalam lingkup mendidik.

Jalannya aksi ini mendapatkan pengamanan dari ratusan personel Polres Nunukan dan Satuan Polisi Pamong Praja Nunukan.

Setelah lama berorasi di depan pagar gedung Kantor Pengadilan Negeri Nunukan, Polisi menyilahkan 10 orang perwakilan demonstran untuk masuk menyaksikan jalannya persidangan dalam kasus kekerasan terhadap murid itu. (kaltim.tribunnews 30082016)

Didakwa Lakukan Kekerasan terhadap Anak, Guru Nober Terancam Hukuman 3,5 Tahun Penjara

04.sidang-guru

Guru SD 005 Kecamatan Nunukan, Nobertus Boli anak dari Petrus Beda, Selasa (30/8/2016) di Pengadilan Negeri Nunukan saat berkonsultasi dengan penasehat hukumnya setelah mendengarkan dakwaan Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Nunukan.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Nunukan, Ali Musa, Selasa (30/8/2016), mendakwa Nobertus Boli anak dari Petrus Beda telah melanggar pasal 76 C Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Jaksa Penutut Umum Kejaksaan Negeri Nunukan menilai, guru Sekolah Dasar Negeri 005 Kecamatan Nunukan itu telah melakukan kekerasan terhadap Chika, muridnya pada 3 Desember 2015 lalu di dalam Kelas 5 a.

Dalam ketentuan pasal 76 C disebutkan, setiap orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan kekerasan terhadap anak.

Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76 C, dipidana dengan pidana penjara paling lama tiga tahun enam bulan dan/atau denda paling banyak Rp72.000.000,00.

Selain menggunakan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014, dalam dakwaan alternatifnya, JPU Kejari Nunukan mendakwa Nobertus Boli telah melanggar pasal 351 ayat (1) KUHP.

Pasal tersebut berisi ancaman pidana penjara paling lama 2 tahun 8 bulan atau pidana denda paling banyak Rp4.500.000,-

“Kami menggunakan dakwaan alternatif,” kata Ali Musa ditemui usai sidang.

Sidang perdana terhadap terdakwa Nobertus yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri Nunukan Trick Briani, berlangsung sejak pukul 10.40 dan berakhir pukul 11.05.

Ratusan guru menghadiri dakwaan yang berlangsung di ruang sidang utama Pengadilan Negeri Nunukan.

Namun dari ratusan guru itu, hanya 10 guru yang diizinkan masuk ke ruangan untuk menyaksikan sidang dakwaan tersebut. Ratusan Polisi mengamankan jalannya persidangan.

Dalam dakwaannya, JPU Kejari Nunukan menyebutkan, Kamis, 3 Desember 2015 sekitar pukul 12.00 saat Nobertus sedang memeriksa hasil ulangan harian murid kelas IV a, tiba-tiba datang Ashar, salah seorang murid menyampaikan jika dia diolok Chika, salah seorang muridnya.

Nobertus lalu mendatangi putri Eka Wahab itu dan bertanya, apakah betul kamu mengolok Bapak?
“Dijawab betul. Kamu olok apa? Bapak botak,” kata jaksa.

Mendengar jawaban dimaksud, Nobertus langsung melakukan kekerasan dengan menampar pipi kiri dan kanan masing-masing satu kali serta meremas mulut korban dengan tangan kanan.

“Sambil berkata, tutur kata dengan gurumu saja tidak sopan. Apalagi dengan orang di luar sana,” ujarnya.

Setelah itu, Nobertus mengambil mistar dengan memukulkannya menggunakan tangan kanan sehingga mengenai punggung korban yang saat itu masih berusia 12 tahun.

Akibat perbuatan dimaksud, Chika mengalami luka memar dan luka gores pada kedua pipinya. Hasil visum, ditemukan adanya luka akibat trauma benda tumpul.

Mendengar dakwaan jaksa penuntut umum tersebut, Nobertus langsung menyampaikan keberatan. “Saya keberatan karena dibilang menampar pipi kiri dan kanan,” ujarnya.

Setelah berkonsultasi dengan penasehat hukumnya, terdakwa langsung menyampaikan keberatan dan akan mengajukan eksepsi.

Majelis Hakim Pengadilan Negeri Nunukan kemudian menutup sidang dan akan melanjutkan sidang pada pekan depan dengan agenda pembacaan eksepsi dari terdakwa.

“Eksepsi disampaikan secara tertulis,” kata hakim mengingatkan.  (kaltim.tribunnews 30082016)

Emosi Nobertus Naik Diolok Murid Setelah Puluhan Tahun Mengajar

Nobertus Boli anak dari Petrus Beda mengaku emosi saat Chika, muridnya mengolok-oloknya. Karena kaget dan emosi itu pula, secara spontan dia meremas mulut muridnya tersebut dan memukul pinggang putri Eka Wahab itu.

“Karena saya merasa menyesal ada siswa mengolok. Saya kaget dan emosi. Spontanitas saya lakukan itu,” ujarnya, Selasa (30/8/2016) ditemui usai sidang dakwaan.

Nobertus mengatakan, selama puluhan tahun mengajar, baru kali itu ada siswa yang mengolok-olok dirinya.

“Makanya saya juga bilang, kamu dengan gurumu saja tidak sopan,” katanya.

Setahu Nobertus, apa yang dilakukannya terhadap Chika masih dalam batas-batas tertentu.

“Kalau dibilang keras, saya kira tidak terlalu keras (memukul),” katanya.

Dia juga membantah telah menampar pipi kiri dan kanan korban, yang kini telah menempuh jenjang pendidikan di sekolah menengah pertama.

“Saya cuma remas mulutnya dan pukul pakai mistar. Tapi tidak terlalu keras. Tidak ada saya tampar pipinya,” katanya.

Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Nunukan, Ali Musa, Selasa (30/8/2016), mendakwa Nobertus Boli anak dari Petrus Beda telah melanggar pasal 76 C Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Selain menggunakan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2014, dalam dakwaan alternatifnya, Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Nunukan mendakwa Nobertus Boli telah melanggar pasal 351 ayat 1 KUHP.

Dalam dakwaannya, Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Nunukan menyebutkan, pada Kamis, 3 Desember 2015 sekitar pukul 12.00 saat Nobertus sedang memeriksa hasil ulangan harian murid kelas IV a, tiba-tiba datang Ashar, salah seorang murid menyampaikan jika dia diolok Chika, salah seorang muridnya.

Nobertus lalu mendatangi putri Eka Wahab itu dan bertanya, apakah betul kamu mengolok Bapak?

“Dijawab betul. Kamu olok apa? Bapak botak,” kata jaksa.

Mendengar jawaban dimaksud, Nobertus langsung melakukan kekerasan dengan menampar pipi kiri dan kanan masing-masing satu kali serta meremas mulut korban dengan tangan kanan.

“Sambil berkata, tutur kata dengan gurumu saja tidak sopan. Apalagi dengan orang di luar sana,” ujarnya.

Setelah itu, Nobertus mengambil mistar dengan memukulkannya menggunakan tangan kanan sehingga mengenai punggung korban yang saat itu masih berusia 12 tahun.

Akibat perbuatan dimaksud, Chika mengalami luka memar dan luka gores pada kedua pipinya. Hasil visum, ditemukan adanya luka akibat trauma benda tumpul.

 (kaltim.tribunnews 30082016)

Keluarga Korban Sesalkan Aksi Guru Saat Jam Belajar

01.Abdul wawab kiakKeluarga Chika, korban kekerasan guru, menyesalkan aksi solidaritas yang dilakukan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Nunukan untuk memberikan dukungan kepada Nobertus Boli anak dari Petrus Beda, pada sidang dakwaan di Pengadilan Negeri Nunukan, Selasa (30/8/2016).

“Dengan solidaritas guru, ini sangat baik. Berarti guru punya persatuan dan kekompakan. Hanya momennya tidak tepat karena waktu belajar,” kata Abdul Wahab Kiak, kakek Chika.

Wahab mengatakan, karena melakukan aksi solidaritas dimaksud, para peserta didik tidak bisa mendapatkan hak untuk untuk belajar di sekolah.

“Apakah saat melakukan aksi ini sudah ada persetujuan dari Kepala Dinas Pendidikan? Apakah sudah ada izin? Karena mereka ini kan terikat dengan aturan ASN,” ujarnya.

Seharusnya, kata mantan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Nunukan itu, PGRI Kabupaten Nunukan hanya mengirimkan perwakilan untuk menyampaikan dukungan moril kepada rekannya itu.

“Mereka ke sini ramai-ramai, hura-hura seperti orang partai. Berarti mereka ini belum sadar hukum. Apakah PGRI ini mau jadi partai?” katanya.   (kaltim.tribunnews 30082016)

Foto-foto demo

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

-ar-

Iklan

Satu pemikiran pada “Guru Demo Kepung Kantor Pengadilan Nunukan

  1. Ping balik: Sidang Putusan Sela, Hakim Tolak Eksepsi PH Guru Nobertus | NUNUKAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s