Membantu Ibu, Pelajar SMA Selundupkan Lima Kilogram Sabu dan 1.000 Butir Ecstacy


pelajar-selundupkan-sabu

Kapolres Nunukan AKBP Pasma Royce, Kamis (15/9/2016), menunjukkan barang bukti narkotika golongan 1 jenis sabu-sabu dan pil ecstasy, bersama para tersangka.

Polisi mengamankan H (17), seorang pelajar SMA di Nunukan karena terlibat dalam jaringan peredaran narkotika golongan 1 jenis sabu sabu dan pil ecstacy.

Warga Jalan Pasar Baru, Kelurahan Nunukan Timur yang sudah lima kali meloloskan penyelundupan sabu sabu dari Tawau, Negara Bagian Sabah, Malaysia, ini terlibat jaringan narkotika bersama ibunya yang berada di Malaysia.

Kapolres Nunukan AKBP Pasma Royce menjelaskan, pengungkapan kasus ini berawal dari keberhasilan polisi menggagalkan penyelundupan sabu-sabu dan pil ecstacy yang dibawa Ahmad Hulantu alias Mad bin Abdul Latif Hulantu (41) dan Agus Salim alias Aga bin Salim (31).

Dari Ahmad yang merupakan buruh bangunan warga Jalan Kelapa RT 07, Kelurahan Banjar, Kecamatan Tikala, Kota Manado, Sulawesi Utara dan Agus warga Jalan Sudirman, Kelurahan Lawangirung Lingkungan III, Kecamatan Wenang, Sulawesi Utara, berhasil diamankan lima kilogram sabu-sabu dan 1.000 butir pil ecstacy dari penyergapan di sebuah hotel di Jalan Antasari, Kelurahan Nunukan Timur, sekitar pukul 01.30, Kamis (8/9/2016) pekan lalu.

“Di hotel itu kami sudah mengamankan barang bukti dalam tas ransel,” ujarnya.

Dari hasil pemeriksaan terhadap keduanya, diperoleh informasi jika narkotika diambil dari Jembatan Bongkok, Kecamatan Nunukan.

“Kita interogasi Ahmad dan Agus. Dari situ diperoleh informasi kalau barang itu dari H,” ujarnya.

Pelaku kemudian diminta menelepon H untuk datang ke hotel.

“Ditelepon dia, begitu ketuk pintu kamar, masuk, langsung kami amankan,” ujarnya.

Saat diperiksa, H mengaku jika barang tersebut selanjutnya akan dikirimkan ke Tarakan.

Di Tarakan, barang akan dijemput Muhamad Fadlansyah alias Mansyah bin Hilauddin Daeng Nampo (38). Atas informasi dimaksud, polisi kemudian melakukan control delivery.

Warga Jalan Muili II Nomor 3 A, Kota Palu itupun berhasil diamankan dari sebuah hotel di Kota Tarakan.

Dari keterangan Mansyah, diperoleh lagi informasi jika barang tersebut akan dibawa ke Palu dan diterima Refli. Polisi lalu melakukan control delivery ke Kota Palu.

“Bersama polisi di Palu, Refli kemudian kami amankan. Kami geledah rumahnya, ditemukan sabu sabu seberat 50 gram. Proses hukumnya kami serahkan ke Polda Sulawesi Tengah, ujarnya.

Dari keterangan para pelaku, narkotika akan dibawa ke Jakarta sebagai tujuan akhir pengiriman.

“Karena kualitas barang cukup bagus dan termasuk barang yang laris di wilayah Jakarta,” ujarnya.

Rencananya pil ecstacy dijual di Jakarta seharga Rp 350.000 – Rp 400.000 per butir.

“Jika dikalkulasikan, perkiraan harga barang tangkapan tersebut bernilai lebih Rp 10 miliar,” katanya.

Penangkapan jaringannya di Indonesia ternyata sampai juga ditelinga ibunda H. Diapun diduga telah menghubungi semua jaringannya yang belum tertangkap sehingga mematikan telepon seluler.

Polisi akhirnya sudah tidak bisa lagi menghubungi sejumlah target dalam kasus itu.

Pasma mengatakan, untuk melakukan pengejaran terhadap ibunda H sebagai pengirim narkotika, polisi telah berkoordinasi dengan LO Polisi di Tawau.

“Ibunya ini posisinya sama dengan anaknya, orang suruhan juga, orang kepercayaan. Kami sudah meminta LO di sana agar bagaimana caranya bisa segera dibawa ke Nunukan,” ujarnya.

Kapolres mengatakan, dalam kasus itu H mendapatkan tugas dari sang ibu untuk mencari orang yang bisa mengirimkan narkotika.

“Dengan upah Rp 150 juta,” katanya.

Sang ibu diduga terlibat sindikat besar di Malaysia. Diapun diduga sudah lama terlibat dalam bisnis haram ini.

Yang mengherankan, dari pengakuan, H dia sudah lima kali meloloskan narkotika yang diselundupkan sang ibu dari Malaysia. Jumlahnya bervariasi.

Yang digagalkan ini keenam kalinya. Kalau jumlah pasti dia tidak tahu berapa yang sudah ia loloskan? Kan semua dikemas rapi, dilakban. Dia tinggal cari orang dan yang mengatur pengiriman selanjutnya dari Malaysia setelah sampai di Nunukan,” ujarnya.

Dalam kasus itu, para pelaku terancam hingga hukuman mati.

“Kami sangkakan pasal 114 ayat (2) jo pasal 132 ayat (1) subsider pasal 112 ayat (2) jo pasal 132 ayat 1 UU RI tentang Narkotika. Hukumannya minimal 5 tahun sampai 20 tahun. Kalau maksimal seumur hidup bisa sampai hukuman mati,” ujarnya. (*)

Sumber: kaltim.tribunnews.com – Kamis 15 September 2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s