Sidang Putusan Sela, Hakim Tolak Eksepsi PH Guru Nobertus


sidang-putusan-sela

Terdakwa Nobertus Boli anak dari Petrus Beda, Selasa (20/9/2016), menghadiri sidang putusan sela di Pengadilan Negeri Nunukan.

Majelis Hakim Pengadilan Negeri Nunukan yang diketuai Rick Briani, Selasa (20/9/2016), menolak eksepsi yang diajukan penasehat hukum Nobertus Boli anak dari Petrus Beda.

Guru SD 005 Kecamatan Nunukan itu menjadi terdakwa kasus kekerasan terhadap Chika Utami yang tidak lain muridnya sendiri.

Majelis Hakim Pengadilan Negeri Nunukan memutuskan menyatakan surat dakwaan penuntut umum telah memenuhi ketentuan pasal 143 ayat (2) huruf a, b KUHAP.

Karena putusan sela menolak eksepsi penasehat hukum terdakwa, sidang akan dilanjutkan dengan pemeriksaan pokok perkara.

“Selanjutnya kami meminta jaksa penuntut umum menghadirkan saksi-saksi pada sidang yang akan digelar selanjutnya pada Selasa, 27 September,” kata hakim.

Hakim menilai, pengakuan terdakwa bahwa dirinya tidak pernah menampar Chika Utami diperlukan untuk proses penelitian dalam persidangan.

“Untuk itu majelis hakim ingin mendengar keterangan saksi,” ujarnya.

Dakwaan jaksa penuntut umum juga harus diperkuat dengan kehadiran para saksi, termasuk saksi korban Chika Utami.

Kronologis yang dituliskan dalam berkas surat dakwaan harus dibuktikan dengan adanya pengakuan saksi korban atau keterangan para saksi yang melihat bentuk penganiayaan yang dilakukan Nobertus.

“Ada atau tidaknya penamparan dan tindakan lain harus dibuktikan di persidangan besok,” kata hakim.

Putusan sela hakim ini disambut positif Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Nunukan, Nurhadi.

Pihaknya pun berjanji segera menghadirkan saksi-saksi pada persidangan pemeriksaan pokok perkara kasus tersebut.

“Kami meminta waktu seminggu yang mulia untuk menyiapkan saksi-saksi,”katanya.

Jaksa penuntut umum akan menghadirkan saksi korban, termasuk teman korban, terdakwa, dan teman terdakwa selaku saksi yang wajib dimintai keterangan.

Penasehat hukum terdakwa, Andi Mansyur Abdulllah juga akan mengupayakan fakta yang benar, bagaimana kronologis sesungguhnya yang terjadi.

“Apakah benar penamparan itu tidak ada seperti menurut klien kami? Justru itu dengan dilanjutkannya sidang ini saya akan mempersiapkan saksi yang mengetahui itu. Guru atau murid. Karena kejadiannya di sekolah.” Katanya.

Pihaknya optimistis bisa memberikan yang terbaik untuk melakukan pembelaan terhadap Nobertus,

“Kami optimistis saksi yang dihadirkan bisa membuat Nobertus lepas dari dakwaan,” katanya.

Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Nunukan, Selasa (30/8/2016) lalu, mendakwa Nobertus telah melanggar pasal 76 C Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Selain menggunakan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2014, dalam dakwaan alternatifnya, Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Nunukan mendakwa Nobertus Boli telah melanggar pasal 351 ayat 1 KUHP.

Pasal tersebut berisi ancaman pidana penjara paling lama 2 tahun 8 bulan atau pidana denda paling banyak Rp 4.500.000,-

Dalam dakwaannya, Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Nunukan menyebutkan, pada Kamis, 3 Desember 2015 sekitar pukul 12.00 saat Nobertus sedang memeriksa hasil ulangan harian murid kelas IV a, tiba-tiba datang Ashar, salah seorang murid menyampaikan jika dia diolok Chika Utami, salah seorang muridnya.

Nobertus lalu mendatangi putri Eka Wahab itu dan bertanya, apakah betul kamu mengolok Bapak?

“Dijawab betul. Kamu olok apa? Bapak botak,” kata jaksa.

Mendengar jawaban dimaksud, Nobertus langsung melakukan kekerasan dengan menampar pipi kiri dan kanan masing-masing satu kali serta meremas mulut korban dengan tangan kanan.

“Sambil berkata, tutur kata dengan gurumu saja tidak sopan. Apalagi dengan orang di luar sana,” ujarnya.

Setelah itu, Nobertus mengambil mistar dengan memukulkannya menggunakan tangan kanan sehingga mengenai punggung korban yang saat itu masih berusia 12 tahun.

Akibat perbuatan dimaksud, Chika mengalami luka memar dan luka gores pada kedua pipinya. Hasil visum, ditemukan adanya luka akibat trauma benda tumpul. (*)

Sumber: kaltim.tribunnews.com – Selasa 20 September 2016

Berita Terkait :  Guru Demo Kepung Kantor Pengadilan Nunukan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s