Nekat, 2 Pemuda Nunukan Tembus Krayan via Darat


Hutan belantara Krayan

TERJAL : Beginilah kondisi jalan di Pegunungan Long Selukud yang dilalui Nofriyanto Lawrence dan Jovial Mariva saat menuju Krayan melalui jalur darat

Cerita ini berawal dari keinginan dua pemuda Nunukan, yakni Nofriyanto Lawrence (36) dan rekannya Jovial Mariva (30) untuk merayakan HUT RI ke 71, pada 17 Agustus lalu dengan cara unik. Yakni menuju Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan menggunakan kendaraan roda dua.

Diketahui, Krayan selama ini hanya bisa diakses melalui udara menggunakan pesawat perintis. Demi mewujudkan tantangan menuju Krayan menggunakan jalur darat, keduanya nekat menerobos hutan Kalimantan menggunakan Suzuki Shogun modifikasi trail dan Jupiter MX yang juga dimodifikasi.

Nofriyanto Lawrence ketika ditemui, Senin (31/10), di rumahnya Jalan Antasari RT 14 Kelurahan Nunukan Tengah Kecamatan Nunukan menuturkan bahwa ia berangkat dari Nunukan tanggal 12 Agustus 2016, sekitar pukul 09.00 Wita.
“Start di dermaga pangkalan H. Muhtar menuju Dermaga Sunga

i Ular, Kecamatan Seimenggaris. Dari Sungai Ular langsung menelusuri jalan trans Kalimantan hingga tembus di Kecamatan Tulin Onsoi, Kecamatan Lumbis dan sampai di Kabupaten Malinau sekitar pukul 17.00 Wita,” ujarnya

Selanjutnya ia bermalam di Malinau, dan keesokan harinya tanggal 13 Agustus bergerak menuju Desa Semamu, kampung terakhir yang ada di Kabupaten Malinau.
“Setelah melewati Desa Semamu, perjalanan langsung sepi karena sudah masuk dalam kawasan hutan belantara, sehingga sampai sore harinya masih tetap di tengah hutan. Akhirnya kami menginap satu malam di hutan. Keesokan harinya, tanggal 14 Agustus langsung bergerak kembali menuju Krayan. Masuk di wilayah Kecamatan Krayan Selatan itu sekitar siang hari dan sampai di Long Bawan pada sore hari tanggal 14 Agustus 2016,” lanjutnya menjelaskan.

Ia mengatakan, nekat ke Krayan melalui jalur darat karena tertantang untuk membuktikan cerita-cerita yang pernah ia dengar bahwa jalan darat dari Malinau ke Krayan sudah tembus.

“Padahal kami berdua tidak tahu kondisi jalannya bagaimana, sehingga tertarik untuk mencoba. Kebetulan juga teman saya ini Jovial memang orang Krayan, tapi tinggalnya di Bandung dan kepingin untuk ke Krayan melalui jalur darat. Kami nekat maka jalanlah berdua karena niat kami juga ingin merayakan HUT Kemerdekaan RI di Krayan,” akunya.

Namun, menurutnya, perjalanannya tidak semulus yang ia bayangkan. Bahkan ia sempat menemui tantangan yang sangat ekstrim.

“Kalau dari Malinau sampai Desa Semamu, jalannya masih bagus karena Malinau dan Semamu itu ada perusahaan sehingga setiap hari ada kendaraan yang lewat. Tapi dari Semamu ke Krayan itu yang jadi tantangan, karena jalannya bergunung. Jalannya tanah merah tapi berbatu karena tidak setiap hari dilewati, ditambah lagi tebing yang curam. Terus gunungnya kemiringannya 90 derajat, traktor saja yang bisa melewatinya,” jelasnya.

Ketika keduanya melewati hutan dari Desa Semamu, ia mengaku tidak pernah bertemu dengan satu orangpun. “Ketemu (orang) ketika sudah masuk di Desa Binuang Kecamatan Krayan Selatan,” akunya.

Sepanjang perjalanan, ia mengaku tidak menemukan hal-hal, aneh karena sudah terbiasa di hutan termasuk tidak menemukan binatang buas.
“Saat sampai di Krayan perasaannya sangat senang sekali, cape langsung hilang karena tidak menyangka lewat darat bisa sampai juga di Krayan,” pungkasnya sambil tertawa.

Untuk perbekalan selama perjalanan, menurutnya ia membawa bensin dari Nunukan, satu orang bawa 20 liter. “Sampai di Malinau ditambah lagi lagi 20 liter, sehingga masing-masing motor bawa 30 liter. Perbekalan makanan hanya bawa mie instan dan ikan kaleng termasuk banyak bawa air minum,” ujarnya.

Sementara itu, saat kembali ke Nunukan, ia memilih menggunakan pesawat terbang, karena sudah tidak sanggup dengan terjalnya medan yang harus ditempuh.

“Untuk motornya ditinggal di Krayan yang Shogun, sedangkan Jupiter MX dibawa ke Nunukan melalui pesawat ke Tarakan dan naik KM. Manta ke Nunukan. Untuk pulangnya sudah tidak sanggup kalau kembali lewat jalur darat, karena dari Krayan ke Malinau itu medannya lebih parah. Lebih tinggi gunungnya, kalau sudah sampai di puncak Gunung Long Selukud, sudah kelihatan desa Binuang dari atas gunung, tapi turunnya itu kami berdua saja takut, membutuhkan waktu 4 jam,” kata Nofriyanto yang memiliki usaha jualan air galon.

Di atas gunung tersebut, kata dia, ia terpaksa menggunakan tali. “Satu pegang motor, satu tarik tali. Kalau jatuhnya cuma satu kali saja di Gunung Long Selukud, karena turunan curam. Untuk pulang ke Nunukan itu tanggal 21 Agustus naik pesawat lewat Tarakan,” kenang Nofrianto.  (korankaltara 01112016)

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s