Banjir Kiriman Malaysia Rendam Ratusan Rumah di Nunukan dan Malinau


20161113-banjir2Eksploitasi hutan secara besar-besaran di wilayah Malaysia yang berbatasan langsung dengan Indonesia, apabila musim penghujan sangat terasa dampaknya untuk masyarakat yang bermukim di perbatasan. Seperti saat ini, kiriman banjir dari wilayah Keningau, Sabah-Malaysia yang melewati Sungai Sembakung merendam ratusan rumah di wilayah Kec. Lumbis, Kec. Lumbis Ogong, Kec.Sembakung di Kabupaten Nunukan dan beberapa kawasan di wilayah Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara.

Banjir Tahunan yang kali ini jauh lebih besar itu tak ayal membuat masyarakat kalang kabut. Mereka berusaha menyelamatkan keluarga, harta dan ternaknya jauh-jauh ke lokasi pegunungan yang diperkirakan tak kan terkena banjir. Pantauan indeksberita.com, setidaknya di Desa Libang, Kecamatan Lumbis, Kabupaten Nunukan pada Sabtu (12/11) tinggi air mencapai 2,5 Meter dan sudah mencapai atap rumah.

Elia, salah seorang warga Desa Lumbis menuturkan bahwa pada kurun waktu antara bulan Oktober hingga Desember, banjir untuk tahun ini jauh lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya.

“Tiap tahunya banjir di sini semakin besar. Mungkin ini akibat hutan-hutan di wilayah Malaysia semakin lama semakin habis karena ditanami sawit sehingga saat hujan turun, hutan tersebut tak mampu lagi menahan terjadinya erosi,” katanya.

Yang dikatakan Elia tersebut mungkin sangat beralasan karena walaupun hutan yang berada di kawasan Lumbis hingga Lumbis Ogong masih terjaga, namun di wilayah Malaysia yang berbatasan langsung dengan Indonesia, kondisi hutannya sudah berganti dengan perkebunan kelapa sawit sehingga lahan itu tak mampu menahan curah hujan sehingga wilayah-wilayah Indonesia yang belakangan menuntut pembentukan DOB (Daerah Otonomi Baru) Kabudaya) tersebut harus menanggung dampaknya.

20161113-banjir-di-keningau-es

Terpisah, Heri, warga yang tinggal di Desa Atap, Kecamatan Sembakung mengatakan bahwa dulu tak pernah ada banjir seperti yang terjadi sekarang. Jika ada banjir pun, tinggi air tak lebih dari mata kaki dan itu pun karena pengaruh air pasang dari laut yang masuk sungai. Ia mengaku heran karena tiap tahun ketinggian air akibat banjir kiriman tersebut semakin bertambah dan ia pun bingung harus mengadu atau menyalahkan siapa.

“Kami berharap agar Pemerintah Pusat dapat mengambil sikap sehingga menemukan solusi tentang permasalahan ini. Karena banjir ini bersasal dari Keningau (Sabah,Malaysia-Red). Maka tentu yang dapat mengambil sikap dan kebijaksanaan adalah Pemerintah Pusat sebab ini menyangkut antar negara. Jangan hanya ketika Malaysia terkena dampak dari Indonesia mereka berteriak, sementara ketika banjir dari wilayah mereka menggenangi pemukiman Indonesia, mereka diam” paparnya.

Sumber: indeksberita.com 12 November 2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s