Aturan Pelabuhan Tawau Adalah Sistem Penjajahan Terhadap Masyarakat


Petrus Kanisius

Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kabupaten Nunukan Petrus Kanisius

Aturan yang diberlakukan pengelola pelabuhan Tawau merupakan tindakan penjajahan yang dilakukan pengusaha terhadap masyarakat khususnya Nunukan. Aturan pemberlakuan penarikan retribusi keluar masuk pelabuhan sebesar 15 ringgit, pembayaran tiket tanpa kecuali bahkan ABK, serta biaya yang diberlakukan untuk barang bawaan 3 ringgit perkilo tanpa kompromi adalah bentuk pemaksaan yang tak bisa ditolerir.

Pemaksaan tersebut bahkan dibarengi aturan pemilik kapal harus melakukan penarikan tersebut untuk diserahkan ke mereka yang tentunya tanpa bukti pembayaran, jika pemilik kapal tak melakukan penarikan retribusi yang biasa dilakukan di tengah laut tersebut,maka pemilik kapal  harus membayar pengelola pelabuhan Tawau dengan memotong setengah dari harga tiket kapal.
Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kabupaten Nunukan Petrus Kanisius mengatakan perlakuan tersebut adalah tindak kekurang ajaran yang menginjak injak harga diri bangsa, bagaimana mungkin aturan yang mereka buat dibebankan kepada pemilik kapal Indonesia, sementara mereka hanya ongkang kaki menerima pembayaran dengan konsekwensi apabila pemilik kapal tak melakukan penarikan retribusi masuk pelabhan Tawau maka setengah harga tiket harus dibayarkan ke mereka.
‘’Ini kan kurang ajar sekali mereka, terus terang saya kasar karena ini menyangkut harga diri bangsa, kita coba negosiasi tapi mereka ternyata tidak mau tahu, ini kita dijajah namanya,’’kata Petrus, Kamis (28/12/2016).
Berbagai upaya juga telah dilakukan dengan meminta konsulat RI sebagai perpanjangan tangan Menlu ikut turun tangan mengatasi persoalan ini, namun ternyata sampai sekarang masalah ini tak teratasi. Pemilik kapal juga hanya bisa pasrah mengikuti kemauan pengelola pelabuhan Tawau, mereka tak berdaya untuk menolak karena takut kerugian yang akan mereka alami jika tak melakukan aturan dimaksud.
Bahkan untuk mengantisipasi masalah tersebut harga tiket juga dinaikkan agar mereka tak lagi harus menarik retribusi ditengah laut untuk masuk Tawau seperti aturan Malaysia, setelah berbagai usaha yang dilakukan tak membuahkan hasil, Petrus berharap Satgas Saber Pungli bisa mengatasi persoalan ini, Petrus mengaku masalah ini adalah dilematis jika dilaporkan ke Saber Pungli.
‘’Kita harapkan petugas Saber bisa atasi penarikan oleh orang kita ini, tapi bagaimana jadinya, imbasnya masyarakat kita nanti akan diapakan, pemerintah kita juga belum ada solusi untuk ini, jadi kita hanya bisa menahan amarah atas perbuatan Malaysia yak kaya gini,’’kata Petrus. (kabarutara 291216)
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s