Diangkut Polisi ke Pelabuhan Buruh KHL Bersikeras Tak Mau Pulang


20170128-buruk-khl

Setelah sempat melakukan aksi menduduki kantor DPRD Nunukan sehari semalam, Jumat (27/1/2017), puluhan eks buruh PT.KHL diangkut polisi ke PLBL Liem Hie djung Tanah Merah Nunukan Barat.

Para buruh bersikeras ingin mendengar jawaban pihak perusahaan terkait kompensasi yang harus mereka terima setelah PHK yang mereka perjuangkan selama ini.

Kapolsek Nunukan Ajun Komisaris Polisi Muhammad Shaleh Wahidi menuturkan, tindakan polisi memulangkan mereka kembali ke perusahaan setelah mendapat permintaan Bupati Nunukan agar para buruh segera dipulangkan ke mess perusahaan di Sebuku.

“Tapi gak tahu juga ini nanti, apa mereka mau atau tidak, karena mereka malah bilang biar terlantar kalau belum ketemu orang KHL tetap gak mau kembali,”tuturnya, Sabtu (28/1/2017).

Salah satu buruh KHL Maria juga menceritakan, Jumat kemarin ia sempat bertemu Bupati Nunukan di rumah dinas sembari menceritakan keluh kesah mereka, bupati juga telah menghubungi perusahaan serta minta penjelasan atas aksi para buruh.

Perusahaan sebenarnya memutuskan menerima para buruh kembali bekerja namun sebagai buruh lepas sehingga buruh langsung menolak tawaran tersebut.

“Kami gak mau pulang kecuali terima pesangon, Kami tunggu perusahaan mau temui kami, biar kami terlantar kami tetap tidak mau, biar pemerintah buka mata dengan terlantarnya kami.”tegasnya.

Sebelumnya para buruh menurut saja ketika polisi mengangkut mereka untuk dipulangkan, namun ketika sampai di pelabuhan salah satu aktivis SBSI Asegaf langsung menahan para buruh dan berteriak meminta para polisi mengembalikan puluhan buruh ke kantor dewan dengan alasan hak buruh yang belum terpenuhi.

Saat ini, buruh kembali terbiar di ruangan pemeriksaan Imigrasi PLBL Liem Hie djung, dimintai tanggapan atas kejadian ini SBSI belum memberi Tanggapan.
“Kita lihat nanti kaya apa,”kata Iswan salah satu aktivis SBSI. (kabarutara 28012017)

Siapa Aktor di Balik Aksi Buruh PT.KHL ?

20170128-buru-khl

Aksi ratusan massa eks buruh PT.Karang Joang Hijau Lestari yang menuntut pesangon disinyalir dikendalikan oleh oknum tertentu. Mulai dari cara mereka bergerak sampai cara mereka berbicara secara kasat mata memang terlihat alami, namun di balik itu semua tak bisa dipungkiri bahwa mereka bergerak diatas instruksi oknum tertentu yang saat ini berada di balik layar.

Kapolsek Nunukan Kota AKP.Muhammad Shaleh Wahidi  mengaku tidak percaya kalau para buruh kehabisan uang sampai diberitakan mereka terpaksa menempati kantor DPRD karena diusir oleh pemilik rumah sewa.

‘’Bohong kalau mereka bilang gak punya uang, anggota kami tiap malam sering lihat mereka berbelanja, yang tadinya sekompek bawa barang ke Nunukan, sekarang bisa empat kompek yang akan mereka bawa pulang,’’katanya, Sabtu (28/1/2017).

Yang membuat kepolisian tak habis fikir adalah kepasrahan buruh yang tadinya rela dipulangkan, tiba tiba saja berubah menjadi pertentangan akibat upaya provokasi aktivis SBSI yang langsung berteriak meminta buruh terus bertahan di Nunukan dan tak membolehkan mereka kembali ke mess mereka di Kecamatan Sebuku sebelum tuntutan mereka terpenuhi.

Padahal dalam beberapa pertemuan dan rapat yang dilakukan, telah terjadi penanda tanganan MoU yang difasilitasi Kapolres Nunukan AKBP.Pasma Royce yang menyepakati agar kasus ini diselesaikan lewat jalur hukum.

‘’Kalau perusahaan kan kemarin sudah welcome, silahkan bekerja kembali tapi bukan KHT tapi buruh borongan, kalau untuk pesangon itu juga perusahaan menyanggupi tapi harus diselesaikan lewat PHI, berapapun yang diputuskan PHI perusahaan akan lakukan, tapi lagi lagi mereka gak mau,’’katanya.

Permasalahan lainnya juga akan menjadi dilema bagi pemerintah seperti Bupati Nunukan dalam mengambil kebijakan, perusahaan sudah menempuh prosedur yang benar dengan menyatakan persetujuan membayar semua eks karyawan mereka jika keputusan pengadilan memang demikian, DPRD juga telah mengeluarkan rekomendasi yang artinya sudah upaya final bagi lembaga Legislator, maka tak salah jika Bupati meminta agar buruh segera dikembalikan ke messnya untuk bekerja kembali meski statusnya sebagai buruh borongan.

‘’Panjang urusannya kan sekarang, adat sudah bicara, pemerintah sudah melakukan tugasnya dengan kita kepolisian yang mencoba mengembalikan mereka ke perusahaan agar mereka bicarakan disana, kalau disini siapa nanti yang tanggung jawab? Pastinya terlantar, kan kasihan,’’kata Kapolsek.

Lebih jauh lagi jika melihat banyak postingan postingan di media social yang diupload aktivis SBSI, semua bernada hate speech, ujaran kebencian yang menjelekkan pemerintah, artinya buruh hanya diperalat untuk mencapai tujuan yang entah apa, buruh hanya menjadi tameng bagi kepentingan oknum tertentu sehingga bisa dikatakan kalau aksi mereka sangat tendensius, tidak murni karena menuntut pesangon.

‘’Kita Tanya loh ke mereka, mereka dikasih pesangon, sudah dikasih, tapi karena ada 5 buruh yang memang belum dapat, terus SBSI bilang pesangon gak sesuai standar mereka ikut semua, ini sandiwara kalau begini, banyak yang minta izin juga tadi ke kami pulangnya 3 atau 4 hari lagi, mereka masih urus Jamsostek atau BPJS, mau beli setir mobil juga buat suaminya di kampung, jadi ini sandiwara saja kalau kami lihat”. Ujarnya. (kabarutara 28012017)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s