Saber Pungli Tangkap Pegawai PT Pelni Nunukan


20170315-kapal-pelniSaber Pungli OTT Dua Pegawai PT Pelni Nunukan

Senin, 13 Maret 2017 18:06

Petugas penindakan Satuan Tugas Sapu Bersih Pungutan Liar (Satgas Saber Pungli) Kabupaten Nunukan melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap dua pegawai harian lepas PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) Nunukan yaitu  SB (65) dan M bin Atmo (47).

“Saat ini keduanya masih di Mapolres Nunukan. Sementara masih dilakukan penyidikan intensif,” kata Kasubag Humas Polres Nunukan Iptu M Karyadi, Senin (13/3/2017).

Kepala Satuan Reskrim Polres Nunukan, AKP Suparno yang membidangi penindakan Satgas Saber Pungli Kabupaten Nunukan menyebutkan, keduanya diamankan pada Minggu (12/3/2017) sekitar pukul 07.10 di terminal barang Pelabuhan Tunon Taka, Kecamatan Nunukan.

“Kami melakukan operasi tangkap tangan terhadap pungutan liar over bagasi dan muatan palksa KM Lambelu yang dilakukan tersangka SB dan M bin Atmo,” ujarnya.

Dijelaskannya, dari tersangka SB disita uang tunai Rp 9.400.000, boking muatan palka sebanyak tujuh lembar terpakai dan 151 belum dipakai, tiga lembar tiket bagasi lebih, stiker PT Pelni Nunukan OB lunas sebanyak 109 lembar dan sepasang seragam PT Pelni.

Sedangkan dari tersangka M bin Atmo disita uang tunai sebesar Rp 6.400.000, lima lembar boking muatan palka kosong, 28 tiket bagasi lebih yang belum terpakai, 12 lembar audit coupon bukti pembayaran bagasi lebih, 154 lembar stiker OB lunas, sebuah tas selempang berwarna hitam dan sepasang seragam PT Pelni.

Modus operandi para pelaku dalam melakukan aksinya, yaitu pengurus barang penumpang datang ke Pelabuhan Tunon Taka, Kecamatan Nunukan untuk melapor kepada SB dan M bin Atmo.

“Bahwa ada barang muatan bagasi dan palka. Lalu saudara SB dan M bin Atmo melihat barang muatan bagasi dan palka tersebut,” ujarnya.

Setelah itu keduanya menentukan harga biaya over bagasi yang harus dibayar berkisar antara Rp 300.000 hingga Rp 1.000.000. Sedangkan untuk biaya barang di palka berkisar Rp 1.500.000 hingga Rp  2.000.000.

“Pembayaran tanpa diberikan bukti pembayaran atau kwitansi,” ujarnya.

Suparno mengatakan, pihaknya telah melakukan klarifikasi dan konfirmasi kepada kedua tersangka.

Penyidik juga telah meminta keterangan para saksi terutama para penumpang yang telah melakukan pembayaran tanpa tanda terima. Termasuk dari pimpinan cabang PT Pelni Persero Nunukan.

“Dua orang ini tugasnya mengawasi barang penumpang. Tetapi pada praktiknya mereka memungut biaya dari pada barang yang dinyatakan over bagasi. Dia lihat, dia perkirakan, kemudian SB ini kalau ada yang over dia pungut, dia setorkan ke M,” ujarnya.

Selanjutnya dari M uang mengalir ke bendahara PT Pelni. “Kita akan panggil juga nanti bendaharanya.  Kami masih dalami,” ujarnya.

Terhadap kedua pelaku, Polisi menyangkakan dengan Pasal 12 huruf e Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2001 tentang perubahan atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Junto pasal 55 ayat 1 ke -1e KUHP. (kaltim.tribunnews.)

Perlu Lengkapi Bukti, Penyidik Lepaskan Dua Pegawai PT Pelni

Selasa, 14 Maret 2017 19:53

Penyidik Polres Nunukan melepaskan dua pegawai harian lepas PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) Nunukan yaitu SB (65) dan M bin Atmo (47).

Petugas penindakan Satuan Tugas Sapu Bersih Pungutan Liar (Satgas Saber Pungli) Kabupaten Nunukan melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap keduanya pada Minggu (12/3/2017) sekitar pukul 07.10 di terminal barang Pelabuhan Tunon Taka, Kecamatan Nunukan.

Kapolres Nunukan AKBP Pasma Royce menjelaskan, penyidik masih meragukan beberapa bukti yang telah diperoleh sehingga keduanya harus dilepaskan.

‘’Kami punya kewenangan 1×24 jam. Cuma keyakinan penyidik untuk menangkap orang ini kan harus alat buktinya lengkap semua,” ujarnya, Selasa (14/3/2017).

Namun Kapolres memastikan, penyidikan kasus tersebut masih terus berjalan. “Nanti kalau diperlukan kami akan proses penahanan. Tetapi kami harus yakin betul. Harus yakin kalau memproses orang,’’ katanya.

Pasma menjelaskan, Satgas Saber Pungli Kabupaten Nunukan masih memiliki satu tugas untuk diselidiki lebih jauh.

“Dan ini butuh proses lagi. Yakni tentang pengakuan Kepala Pelni Nunukan Choiriyanto yang menyebut keduanya hanya pegawai lepas yang berseragam PT Pelni. Sehingga Satgas Saber butuh waktu untuk menelisik pengakuan tersebut,” ujarnya.

Untuk penanganan kasus tersebut, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Kejaksaan Negeri Nunukan.

“Kita tahu uangnya mengalir ke bendahara PT Pelni. Itu yang kami dalami. Karena lewat 1×24 jam kami keluarkan dulu mereka. Nanti kalau alat bukti lengkap semua, kami lakukan penahanan lagi,” katanya.

Seperti diberitakan, dari tersangka SB disita uang tunai Rp 9.400.000, booking muatan palka sebanyak tujuh lembar terpakai dan 151 belum dipakai, tiga lembar tiket bagasi lebih, stiker PT Pelni Nunukan OB lunas sebanyak 109 lembar dan sepasang seragam PT Pelni.

Sedangkan dari tersangka M bin Atmo disita uang tunai sebesar Rp 6.400.000, lima lembar booking muatan palka kosong, 28 tiket bagasi lebih yang belum terpakai, 12 lembar audit coupon bukti pembayaran bagasi lebih, 154 lembar stiker OB lunas, sebuah tas selempang berwarna hitam dan sepasang seragam PT Pelni.

Modus operandi para pelaku dalam melakukan aksinya, yaitu pengurus barang penumpang datang ke Pelabuhan Tunon Taka, Kecamatan Nunukan untuk melapor kepada SB dan M bin Atmo.

“Bahwa ada barang muatan bagasi dan palka. Lalu saudara SB dan M bin Atmo melihat barang muatan bagasi dan palka tersebut,” ujar Kepala Satuan Reskrim Polres Nunukan, AKP Suparno.

Setelah itu keduanya menentukan harga biaya over bagasi yang harus dibayar berkisar antara Rp 300.000 hingga Rp 1.000.000. Sedangkan untuk biaya barang di palka berkisar Rp 1.500.000 hingga Rp 2.000.000.

“Pembayaran tanpa diberikan bukti pembayaran atau kwitansi,” ujarnya.

Suparno mengatakan, pihaknya telah melakukan klarifikasi dan konfirmasi kepada kedua tersangka. Penyidik juga telah meminta keterangan para saksi terutama para penumpang yang telah melakukan pembayaran tanpa tanda terima. Termasuk dari pimpinan cabang PT Pelni Persero Nunukan.

“Dua orang ini tugasnya mengawasi barang penumpang. Tetapi pada praktiknya mereka memungut biaya dari pada barang yang dinyatakan over bagasi. Dia lihat, dia perkirakan, kemudian SB ini kalau ada yang over dia pungut, dia setorkan ke M,” ujarnya.

Selanjutnya dari M uang mengalir ke bendahara PT Pelni.

“Kita akan panggil juga nanti bendaharanya. Kami masih dalami,” ujarnya.

Terhadap kedua pelaku, Polisi menyangkakan dengan Pasal 12 huruf e Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2001 tentang perubahan atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Junto pasal 55 ayat 1 ke -1e KUHP. (kaltim.tribunnews.)

Pegawainya Kena OTT, Pemimpin Cabang PT Pelni Komentar Begini

Selasa, 14 Maret 2017 20:12

Manajer Cabang PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) Nunukan Choiriyanto, enggan menanggapi penangkapan dua pegawainya SB (65) dan M bin Atmo (47).

Petugas penindakan Satuan Tugas Sapu Bersih Pungutan Liar (Satgas Saber Pungli) Kabupaten Nunukan melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap keduanya pada Minggu (12/3/2017) sekitar pukul 07.10 Wita di terminal barang Pelabuhan Tunon Taka, Kecamatan Nunukan.

‘’Iya pegawai saya. Silakan tanya langsung ke penyidiknya,’’ katanya, Selasa (14/3/2017) usai memberikan keterangan di Mapolres Nunukan.

Dia juga enggan menjawab saat ditanyai wartawan, apakah pungutan liar (pungli) yang dilakukan kedua pegawainya itu sudah berlangsung lama?

Dari pemeriksaan yang dilakukan Polisi terhadap SB dan M bin Atmo, diketahui jika keduanya bertugas mengawasi barang penumpang.

“Tetapi pada praktiknya mereka memungut biaya dari pada barang yang dinyatakan over bagasi. Dia lihat, dia perkirakan, kemudian SB ini kalau ada yang over dia pungut, dia setorkan ke M,” ujar Kepala Satuan Reskrim Polres Nunukan, AKP Suparno.

Selanjutnya dari M uang mengalir ke bendahara PT Pelni. Polisi saat ini sedang mendalami aliran dana dari keduanya kepada bendahara cabang PT Pelni (Persero). (kaltim.tribunnews.)

Satu Pegawai Tersangka OTT, Polisi Dalami Keterlibatan Pemimpin PT Pelni

20170315-rizal-muchtarRabu, 15 Maret 2017 16:31

Ketua Satuan Tugas Sapu Bersih Pungutan Liar (Satgas Saber Pungli) Kabupaten Nunukan, Kompol Rizal Muchtar memastikan pihaknya telah menetapkan SB (65) sebagai tersangka dalam operasi tangkap tangan yang dilakukan pada Minggu (12/3/2017) sekitar pukul 07.10 di Terminal barang Pelabuhan Tunon Taka, Kecamatan Nunukan.

Sedangkan M bin Atmo (47), pegawai harian lepas lainnya pada PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) Nunukan, hingga kini masih berstatus sebagai saksi.

“Proses penyelidikan sudah kami tingkatkan ke tahap penyidikan sejak kita OTT. Haji Bahar kami tetapkan tersangka. Adapun Mahrup untuk saat ini masih saksi. Kami masih melengkapi konstruksi pasal,” ujarnya, Rabu (15/3/2017).

Dia memastikan dalam pekan ini akan mengirimkan kepada Kejaksaan Negeri Nunukan surat pemberitahuan dimulainya penyidikan (SPDP) terhadap tersangka SB.

Dia menjelaskan, Polisi menangguhkan penahanan tersangka SB dengan alasan penilaian subyektif penyidik, sambil menyiapkan konstruksi pasal yang akan disangkakan.

‘’Sementara kami minta keterangan mereka berdua. Untuk tersangka SB juga belum kami lakukan pencekalan ke luar negeri,’’ katanya.

Dalam kasus itu pihaknya telah memeriksa sejumlah saksi termasuk bendahara dan manager cabang PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) Nunukan.

Rizal mengatakan, uang hasil pungutan liar itu dipastikan mengalir kepada bendahara.

Dari kasus itu, ada indikasi kuat keterlibatan Manajer Cabang PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) Nunukan, Choiriyanto.

Bahkan pengutan liar seperti ini disinyalir sudah berlangsung dalam waktu yang lama sehingga tidak tertutup kemungkinan penyidik juga akan memanggil sejumlah Manajer Cabang PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) Nunukan, sebelum Choiriyanto.

“Kami dalami semua dalam penyidikan. Tidak tertutup kemungkinan ada tersangka baru atau malah ada pemanggilan untuk kepala Pelni yang lama,’’ ujarnya.

Seperti diberitakan, saat operasi tangkap tangan dari tersangka SB disita uang tunai Rp 9.400.000, booking muatan palka sebanyak tujuh lembar terpakai dan 151 belum dipakai, tiga lembar tiket bagasi lebih, stiker PT Pelni Nunukan OB lunas sebanyak 109 lembar dan sepasang seragam PT Pelni.

Sedangkan dari tangan M bin Atmo disita uang tunai sebesar Rp 6.400.000, lima lembar booking muatan palka kosong, 28 tiket bagasi lebih yang belum terpakai, 12 lembar audit coupon bukti pembayaran bagasi lebih, 154 lembar stiker OB lunas, sebuah tas selempang berwarna hitam dan sepasang seragam PT Pelni.

Modus operandi para pelaku dalam melakukan aksinya, yaitu pengurus barang penumpang datang ke Pelabuhan Tunon Taka, Kecamatan Nunukan untuk melapor kepada SB dan M bin Atmo.

“Bahwa ada barang muatan bagasi dan palka. Lalu saudara SB dan M bin Atmo melihat barang muatan bagasi dan palka tersebut,” ujar Kepala Satuan Reskrim Polres Nunukan, AKP Suparno.

Setelah itu keduanya menentukan harga biaya over bagasi yang harus dibayar berkisar antara Rp 300.000 hingga Rp 1.000.000. Sedangkan untuk biaya barang di palka berkisar Rp 1.500.000 hingga Rp 2.000.000.

“Pembayaran tanpa diberikan bukti pembayaran atau kwitansi,” ujarnya.

(kaltim.tribunnews.)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s