Penyidikan Pasar Induk Berlanjut, Kejati Periksa Napi Pencucian Uang


20170322-nunukan_bangunan-pasar-induk

Penyidik Kejaksaan Tinggi (Kejati) Kalimantan Timur memeriksa mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Nunukan, Abdul Azis Muhammadiyah di Kantor Kejaksaan Negeri Nunukan, Selasa (21/3/2017).

Narapidana kasus gratifikasi dan pencucian uang yang dihukum 10 tahun penjara itu, harus di-bon dari Lapas Klas II B Sungai Jepun, Kecamatan Nunukan Selatan untuk diperiksa terkait kasus dugaan korupsi pasar induk, Kecamatan Nunukan.

‘’Dia diperiksa sebagai saksi. Waktu itu dia kepala Dinas PU sebelum Khotaman,” ujar Ali Mustofa, jaksa Kejaksaan Negeri Nunukan.

Dalam kasus itu, mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Nunukan, Khotaman dan mantan pelaksana teknis kegiatan (PPTK) I Putu Budiarta lebih dulu ditetapkan sebagai tersangka.

Saat ini keduanya sedang menjalani persidangan sebagai terdakwa di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Samarinda.

Belakangan penyidik Kejaksaan Tinggi Kalimantan Timur menetapkan Jayadi sebagai tersangka baru dalam kasus itu. Jayadi merupakan kontraktor yang mengerjakan proyek tersebut.

Azis yang baru tiba di Kantor Kejaksaan Negeri Nunukan, Jalan Ujang Dewa, Kecamatan Nunukan Selatan enggan menjawab pertanyaan wartawan saat ditanyai soal kasus tersebut.

Azis yang mengenakan setelan kemeja lengan pendek berwarna putih dipadu celana jeans memilih langsung masuk ke ruang penyidik.

Penyidik sebelumnya juga telah menetapkan Batto sebagai tersangka.

Belakangan diterbitkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) terhadap Batto, dengan alasan tandatangannya telah dipalsukan Jayadi saat pekerjaan proyek bernilai Rp 13,7 miliar yang dialokasikan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Nunukan 2006-2009.

Jayadi ditetapkan sebagai tersangka dan akhirnya divonis bersalah dalam kasus pemalsuan tanda tangan Batto.

Batto memolisikan Jayadi karena merasa dirugikan, sebab akibat kuasa usaha yang mencantumkan tanda tangannya, penyidik Kejaksaan Tinggi Kalimantan Timur menetapkannya sebagai tersangka dugaan korupsi pembangunan gedung pasar induk.

Jaksa menilai terjadi korupsi pada proyek pembangunan gedung pasar induk karena diduga tidak sesuai dengan spesifikasi dalam perencanaan.

Hasil pengumpulan data dan investigasi tim penyidik menyebutkan, gedung pasar induk tersebut kini tidak dapat difungsikan.

Dicontohkan, fakta di lapangan seperti tiang pancang bangunan pasar induk tidak sesuai dengan spesifikasi. Sehingga fisik bangunan pasar induk tidak berdiri kokoh.

Sumber: kaltim.tribunnews.com – 21 Maret 2017

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s