Banjir kiriman Malaysia rendam sejumlah wilayah Nunukan


20170402-bajir-lumbis

Rumah penduduk di Kecamatan Lumbis Ogong yang terendam banjir, Sabtu (1/4/2017).

Banjir kiriman akibat meluapnya aliran sungai hulunya dari Negeri Sabah, Malaysia merendam sejumlah wilayah bagian hilirnya di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara akibat hujan deras yang mengguyur negara tetangga tersebut.

Nirwana, seorang perawat di Puskesmas Binter Kecamatan Lumbis Ogong, Sabtu membenarkan terjadinya banjir akibat meluapnya aliran sungai di daerahnya hingga ketinggian mencapai dada orang dewasa (kisaran 1-1,5 meter–red) meskipun tidak berlangsung hujan di daerah ini.

Melalui pesan singkatnya, dia mengatakan banjir yang melanda daerahnya dan merendam puluhan rumah warga dan fasilitas umum berlangsung secara tiba-tiba pada Sabtu sekitar pukul 16.00 WITA.

Hal yang sama dialami ratusan rumah di Desa Mansalong Kecamatan Lumbis yang juga berada di pinggir sungai yang meluap dengan kedalaman baru setinggi lutut orang dewasa (kisaran 0,5- 1 meter).

“Mansalong (Lumbis) juga dilanda banjir, Kebetulan sekarang saya berada di Mansalong tiba-tiba banjir gara-gara sungai meluap,” kata Nirwana seraya menambahkan padahal tidak terjadi hujan di daerah itu.

Akibatnya, warga di Desa Binter kalang kabut menyelamatkan harta bendanya akibat Sungai Pensiangan yang meluap berhulu pada sejumlah kota besar di Negeri Sabah yakni Tanom, Sepulut, Nabawan dan Keningau, kata Lumbis, seorang ASN di Kantor Bupati Nunukan melalui pesan singkatnya.

Ia mengungkapkan banjir yang terjadi di Kecamatan Lumbis dan Lumbis Ogong terakhir 2014 dan baru kali ini terjadi lagi. Hal ini terjadi akibat hujan deras yang melanda negara tetangga Malaysia sebagai hulu Sungai Pensiangan yang bermuara di Kecamatan Sembakung.

Lumbis mengatakan apabila tidak berlangsung hujan deras di hulu sungai di Negeri Sabah tidak akan terjadi banjir pada empat kecamatan di Kabupaten Nunukan yakni Lumbis Ogong, Lumbis, Sembakung dan Sembakung Atulai. (ntaranews 01042017)

 

Banjir Luapan Sungai yang Berhulu di Malaysia, Hetifah Sarankan Bupati Koordinasi dengan BNPP

Senin, 3 April 2017 18:36

20170402-banjir03

Anggota DPR RI, Hetifah Sjaifudian, menyarankan agar Bupati Nunukan, Asmin Laura Hafid membawa persoalan banjir di wilayah pedalaman Kabupaten Nunukan kepada Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP).

Hal itu disampaikannya menyikapi banjir yang merendam puluhan desa di Kecamatan Lumbis Ogong, Kecamatan Lumbis, Kecamatan Sembakung Atulai dan Kecamatan Sembakung sejak Sabtu (1/4/2017).

Banjir yang merendam pemukiman dan lahan pertanian warga itu akibat luapan Sungai Sembakung yang berhulu di Sungai Pensiangan, Sabah, Malaysia, Sungai Labang, dan Sungai Simalumung di Kecamatan Lumbis Ogong.

Politisi Partai Golongan Karya ini menilai, topografi Kecamatan Lumbis Ogong yang memiliki kesinambungan langsung dengan sungai negara Malaysia butuh perhatian serius. Apalagi banjir terjadi setiap tahun.

Dia merasa prihatin dengan kejadian tersebut. “Apalagi masyarakat sampai mengungsi,” ujarnya, Senin (3/4/2017).

Terhadap persoalan ini, kata dia, Pemerintah Kabupaten Nunukan tidak boleh kehabisan akal untuk mengatasi persoalan yang bersentuhan langsung dengan kepentingan masyarakat tersebut.

“Meskipun ini menyangkut hubungan antar dua negara Indonesia dan Malaysia. Langkah konkret harus diambil,” ujarnya.

Dia menyebutkan, harus ada pembicaraan dua arah melalui komunikasi intens dengan pemerintah Malaysia. Sebab hulu Sungai Sembakung berada di Malaysia.

“Bupati perlu segera membuat laporan berisi data kondisinya dengan informasi pendukung dari Balai Wilayah Sungai dan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika,” ujarnya.

Selain itu laporan harus diserahkan kepada BNPP, Kemendagri, dan Kemen PU supaya ada penanganan yang lebih mendasar.

Sebelumnya diberitakan warga Desa Nainsid, Desa Kalampising, Desa Sasibu, Desa Sedongon Kelompok Kalampising di Kecamatan Lumbis harus menanggung kerugian yang besar akibat banjir yang merendam selama semalam sejak Sabtu (1/4/2017) pagi hingga Minggu (2/4/2017) pagi. Ketinggian air mencapai lebih 3 meter.

Alson, warga Desa Nainsid mengatakan, setelah banjir surut pada Minggu pagi, warga harus menanggung beban  karena ikan budidaya maupun tanaman mereka musnah disapu banjir.

“Ikan budidaya kolam paling sedikit 2.000 ekor. Belum lagi tanaman sayuran diperkirakan sekitar 4 hektare. Seperti tanaman ubi singkong, cabai, kacang panjang,” ujarnya, melalui pesan WhatsApp.

Dia menyebutkan, akibat banjir tersebut masyarakat setempat sudah tidak lagi memiliki sumber pendapatan yang bisa diandalkan untuk bertahan hidup.

“Masyarakat di sini cuma mengandalkan berkebun tanaman dan budidaya ikan. Kalau sudah musnah begini, harus memulai merintis dari awal lagi,” ujarnya.

Masyarakat setempat berharap, instansi terkait juga memberikan perhatian agar masyarakat bisa kembali bercocok tanam dan melakukan budidaya ikan kolam. (kaltim.tribunnews)

Tiga Sekolah di Perbatasan Terendam Banjir, Siswa di Tiga Sekolah Diliburkan

Senin, 3 April 2017 17:59
20170404-terendam-banjir

Salah satu sekolah di Kecamatan Sembakung yang terendam banjir.

Setelah merendam puluhan desa di Kecamatan Lumbis dan Lumbis Ogong pada Sabtu (1/4/2017) dan Minggu (2/4/2017), banjir akibat luapan Sungai Sembakung mulai menggenangi Kecamatan Sembakung.

Desa Butas Bagu, Desa Atap, hingga Desa Tepian terendam banjir hingga sekitar satu meter dari permukaan sungai normal, Senin (3/4/2017).

Camat Sembakung Zulkifli mengatakan, selain merendam pemukiman penduduk, banjir juga menenggelamkan sejumlah gedung sekolah. Akibatnya, pihak sekolah harus menghentikan sementara kegiatan belajar mengajar.

“Banjir naik 40 sentimeter. Menggenangi rumah juga sekolah satu meter lebih. Terpaksa kegiatan belajar diliburkan karena kondisinya tidak memungkinkan.”ujarnya, Senin (3/4/2017) dihubungi melalui telepon selulernya.

Sekolah yang terendam itu masing-masing SD Negeri 012 Sembakung, SMP Negeri 1 Sembakung, dan SMA Negeri 1 Sembakung.

Dia menyebutkan, pihak sekolah terpaksa meliburkan para siswanya karena gedung sekolah sama sekali tidak bisa digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Selain gedung sekolah terendam air, akses jalan menuju ke sekolah juga ikut terputus.

Dia menyesalkan terhambatnya aktivitas belajar mengajar akibat banjir dimaksud. Apalagi peristiwa ini terjadi saat memasuki ujian.

Selain mengganggu kegiatan belajar mengajar, banjir juga menyebabkan terganggunya pelayanan kesehatan terhadap warga.

Bangunan Puskesmas Atap ikut terendam air sehingga tidak bisa digunakan untuk melayani pasien.

“Kami pindahkan pasien ke bangunan di tempat tinggi. Tidak dirawat di ruang perawatan,” ujarnya.

Dia menyebutkan, Kecamatan Sembakung merupakan wilayah terakhir yang terkena dampak banjir luapan sungai yang berhulu di Sungai Pensiangan, Sabah, Malaysia, Sungai Labang dan Sungai Simalumung di Kecamatan Lumbis Ogong.

“Di sini wilayah terdampak. Otomatis air buangan Sungai Sembakung dari Kecamatan Sembakung Atulai, Kecamatan Lumbis, Kecamatan Lumbis Ogong mengalir ke wilayah akhir. Kalau di sana sehari, di sini bisa seminggu banjir,” ujarnya.

Apalagi jika air laut sedang pasang, banjir bisa bertahan lebih lama. Diapun memastikan, banjir tersebut menimbulkan berbagai kerusakan.

Diungkapkannya, banjir itu telah menghanyutkan dermaga di Desa Lubakan. Desa tersebut merupakan wilayah relokasi sampai ke Desa Tagul.

Banjir kali ini merendam ratusan rumah penduduk di enam desa di Kecamatan Sembakung,

“Termasuk tiga desa yang terletak di bagian atas seperti Desa Tujung, Desa Manuk Bungkul, Desa Butas Bagu,” ujarnya.

Saat ini masyarakat masih memilih mengungsi ke tempat yang lebih tinggi. Wargapun harus bertahan hidup dengan persediaan makanan dan minuman seadanya. Sebab mereka belum tersentuh bantuan. (kaltim.tribunnews)

Mengungsi Akibat Banjir Luapan Sungai yang Berhulu di Sabah, Warga Belum Terima Bantuan

Senin, 3 April 2017 17:38
20170404-mengungsi

Warga di Kecamatan Lumbis, Senin (3/4/2017), masih memilih tinggal di tenda pengungsian karena khawatir Sungai Sembakung kembali meluap.

Sejumlah warga di Kecamatan Lumbis hingga Senin (3/4/2017) masih memilih tinggal di tenda pengungsian setelah banjir menenggelamkan pemukiman mereka selama semalam sejak sejak Sabtu (1/4/2017) pagi. Warga memilih mengungsi karena khawatir sungai kembali meluap.

“Tadi pagi Lumbis naik lagi tetapi tidak terlalu besar. Sembakung dan Sembakung Atulai yang lama surut,” ujar Musa, salah seorang warga, Senin (3/4/2017).

Lumbis, warga setempat mengatakan, air sudah surut di Kecamatan Lumbis dan Kecamatan Lumbis Ogong.

“Sampai saat ini belum ada kabar dari Sabah, apakah banjir lagi. Biasanya akan ada susulannya,” katanya.

Banjir terjadi akibat luapan Sungai Sembakung yang berhulu di Sungai Pensiangan, Sabah, Malaysia.

Dari pendataan yang dilakukan Tim Pemuda Penjaga Perbatasan Republik Indonesia, di Kecamatan Lumbis Ogong banjir merendam pemukiman warga di Desa Samunti, Desa Salan, Desa Sungoi, Desa Sinampila, Desa Kalambuku, Desa Sadalid, Desa Tadungus, Desa Tambalang Hilir, Desa Sinampila II, Desa Ubol Alung, Desa Ubol Sulok, Desa Nansapaan, Desa Batung, Desa Bulu Mangolom Suyadon, Desa Payang, Desa Nainsid Hulu, dan Long Bulu.

Sementara di Kecamatan Lumbis banjir merendam pemukiman warga di Desa Patal I, Desa Patal II, Desa Lintong, Desa Taluan, Desa Pulu Bulawan, Desa Tubus, Desa Likos, Desa Tanjung Hulu, Desa Mansalong, Desa Kalampising, Desa Sodongon, Desa Liang, Desa Sapuyan, Desa Nainsid, dan Desa Sisibu.

Di Kecamatan Sembakung Atulai, kawasan yang terkena banjir berada di Desa Liuk Bulu, Desa Binanun, Desa Pulau Keras, Desa Lubok dan Desa Katul.

Sementara di Kecamatan Sembakung, banjir merendam pemukiman penduduk di Desa Butas Bagu, Desa Labuk, Desa Pagar, Desa Tujung, Desa Manuk Bungkul, Desa Tembalunu, Desa Atap, Desa Tagul, Desa Lubakon, Desa Palaju, Desa Labion dan Desa Tepian.

Meskipun telah surut, warga di Kecamatan Lumbis dan Kecamatan Lumbis Ogong belum juga menerima bantuan makanan dan minuman.

Kepala Desa Ubol Alung, Kecamatan Lumbis Ogong, Muriono mengatakan, sebagian warga yang sempat mengungsi di hutan sudah mulai turun untuk membersihkan sisa banjir yang meninggalkan lumpur.

Masyarakat, kata dia, saling berbagi makanan, lauk juga sayur-sayuran untuk dimakan bersama.

“Bantuan belum masuk, sebagian pulang membersihkan sisa lumpur. Sebagian yang rumahnya masih tergenang menumpang di tempat saudara,”katanya. (kaltim.tribunnews)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s