Pemkab Nunukan Diminta Jangan Lengah terhadap Ancaman Teroris


20170611-brimob-ke-sebatik

Pasukan Brimob dari Kompi 3 batalyon C Pelopor dikirim ke Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara, sejak Kamis (1/6/2017) lalu, untuk mengantisipasi masuknya jaringan teroris ISIS ke wilayah Negara Kesatuan Negara Republik Indonesia (NKRI).

Pemkab Nunukan diingatkan agar jangan lengah terhadap ancaman teroris.

Ketua DPRD Nunukan Haji Danni Iskandar berharap Pemkab Nunukan peka dengan bergabung bersama aparat lainnya melakukan tindakan antisipasi masuknya jaringan teroris ke daerah ini.

Pasalnya wilayah konflik di Marawi, Filipina hanya bisa ditempuh selama delapan jam ke Kabupaten Nunukan.

Karena itu, kata dia, daerah inipun punya peluang besar menjadi tempat masuknya pelarian kelompok militan teroris Maute pendukung Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Marawi Filipina yang terus terdesak oleh pasukan militer Filipina.

“Pemkab Nunukan ini yang punya daerah. Perintahkan OPD terkait agar aktif menyosialisasikan penanggulangan terorisme yang sudah di depan mata. Jangan hanya diam,” ujarnya, Rabu (7/6/2017).

Sejauh ini, dia belum melihat ada organisasi perangkat daerah yang bergerak untuk menyosialisasikan penanggulangan terorisme.

Sehingga nampak tidak ada partisipasi dari Pemkab Nunukan untuk melawan terorisme di daerah ini. Padahal, jika ada teroris yang lolos tentu akan menjadi sorotan juga terhadap Pemkab Nunukan.

“Makanya kita harus peka. Nanti kalau bagaimana bagaimana, Nunukan akan disalahkan juga oleh pusat,” kata politisi Partai Demokrat ini.

Komandan Pos TNI Angkatan Laut Sungai Nyamuk, Letda Laut (P) Benu Purnomo memastikan, setiap hari pihaknya melakukan kegiatan counter terrorism masuknya kelompok militan Maute di wilayah perbatasan Sebatik.

Counter terrorism merupakan segala praktik, taktik atau teknik yang dilakukan oleh pihak pemerintah, pihak militer atau pihak kepolisian, baik sendiri-sendiri atau bersama- sama yang bertujuan untuk merespon atau mencegah aksi teror tidak terjadi.

Dia menyebutkan sweeping terhadap identitas maupun barang bawaan dilakukan terhadap semua penumpang yang masuk maupun keluar melalui pelabuhan di Pulau Sebatik.

“Ini dilakukan di pintu masuk naik speedboat. Sweeping dilakukan kepada penumpang yang akan berangkat dengan naik speedboat tujuan Sebatik-Tarakan,” ujarnya.

Gabungan aparat di Pulau Sebatik juga menyebar pamflet berisi foto warga negara Indonesia yang masuk daftar pencarian orang karena terlibat teroris Maute.

Pembagian dan pemasangan pamflet daftar teroris itu dilakukan di area pelabuhan tikus dan dermaga speedboat reguler penyeberangan di Pulau Sebatik.

“Kegiatan ini dilaksanakan dalam upaya counter terrorism masuknya kelompok militan Maute Marawi Filipina di wilayah perbatasan Sebatik,” katanya.

Selain membagikan dan memasang pamflet, juga dilakukan sosialisasi, upaya pembinaan bela negara dan sweeping penumpang speedboat reguler oleh aparat gabungan yang terdiri dari Satuan Tugas Marinir Ambalat XXI, Pos Angkatan Laut Sungai Nyamuk, Polsek Sebatik Timur dan Kompi 3 Batalion C Pelopor Brimob Daerah Kalimantan Timur.

“Kegiatan ini dilakukan di dua titik rawan perlintasan yakni di dermaga kapal-kapal kayu Hajjah Noori Pancang Tengah yang merupakan pelabuhan tradisional atau pelabuhan tikus dan dermaga speedboat reguler Sebatik-Tarakan,” katanya.

Gabungan aparat TNI dan Polri memperketat pengawasan di jalur-jalur rawan di Pulau Sebatik. Bersenjata lengkap, sejak Kamis (1/6/2017) mereka melakukan tugas mengadang pelarian kelompok ISIS dan kelompok penentang pemerintah dari Marawi, Filipina.

Sejak bertugas di Pulau Sebatik, personel Kompi 3 Batalion C Pelopor Brimob Daerah Kalimantan Timur maupun TNI yang ditugaskan khusus di Pulau Sebatik juga aktif berpatroli menyisir hutan maupun kawasan pesisir pantai. (kaltim.tribunnews 7 Juni 2017)

Terduga Teroris Lewat Nunukan ke Filipina karena Lebih Cepat

Militer Filipina menemukan dua paspor milik Warga Negara Indonesia (WNI) di salah satu rumah di lokasi konflik.

Pemilik paspor masing-masing Ali Al Amin dengan nomor paspor B2550461 dan Irsyad Ahmad Darajat dengan nomor paspor B3034921 terdeteksi keluar dari Kabupaten Nunukan menuju ke Tawau, Negara Bagian Sabah, Malaysia pada 15 November 2016 dengan menumpang MV Labuan Expres 5.

Dari Sabah, keduanya lalu melanjutkan perjalanan menuju ke Marawi, Filipina.

Kepala Kantor Imigrasi Kelas II Nunukan, Ferry Herling Ishak Suoth SH menduga Kabupaten Nunukan merupakan jalur yang lebih mudah dan cepat sehingga menjadi perlintasan bagi warga negara Indonesia yang diduga bergabung dengan kelompok militan teroris Maute pendukung Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Marawai Filipina.

“Ini sekaligus memberikan informasi bagi simpatisan ISIS untuk lebih mengenal lajur perbatasan,” ujarnya, Rabu (7/6/2017).

Dia mengatakan, tanpa alasan dimaksud tentu kelompok tersebut akan memilih jalur udara karena lebih efisien.

“Namun jikapun mereka memilih lajur laut, bisa saja mereka berangkat melalui Surabaya, Sulawesi Utara atau Kota Tarakan,” ujarnya.

Pihaknya sendiri tidak mengetahui persis tujuan mereka sebenarnya keluar dari Kabupaten Nunukan menuju keluar negeri.

“Karena kalau wawancara, biasa mereka mengaku mau mengunjungi saudara atau berlibur,” katanya.

Selain kedua warga dimaksud, pihaknya juga sedang mengawasi delapan pasang jemaah tabligh asal India yang masuk Nunukan melalui Malaysia beberapa waktu lalu.

Imigrasi telah memberikan data lengkap rombongan tersebut ke Polisi untuk terus dipantau aktivitasnya serta isi dari materi dakwah mereka.

“Kami bukannya suudzon, tetapi ini kondisi memang gawat. Mungkin bisa saja nanti kita warning warga Filipina yang masuk. Kan kita harus antisipasi hal sekecil apapun,” ujarnya.

Saat ini Imigrasi harus lebih ketat terkait perizinan masuknya orang asing dari Malaysia ke Nunukan.

“Kami interview cara intelijen. Kami lebih banyak bertanya kepada mereka, karena kami tidak mau kecolongan,” ujarnya.

Pihaknya bahkan memberikan pertanyaan menjebak dengan teori interview tertentu. Jika jawaban yang diperoleh mencurigakan, pihaknya berhak menolak masuk pelancong tersebut.

Pengawasan juga dilakukan terhadap warga negara Indonesia asal Jawa Barat yang hendak masuk dan keluar melalui Kabupaten Nunukan.

“Karena kebanyakan paspor yang terdata di wilayah konflik Fhilipina ini, WNI asal Jawa Barat. Tentu kami juga punya pertimbangan khusus,” katanya.

Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut Nunukan Letkol Laut (P) Ari Aryono sebelumnya mengaku telah berkoordinasi dengan pihak Kantor Imigrasi Kelas II Nunukan untuk memburu dua warga negara Indonesia yang diduga bergabung dengan kelompok militan teroris Maute pendukung ISIS di MarawiFilipina.

“Pada Senin 29 Mei 2017 lalu kami mendapatkan informasi dari LO TNI AL di Fhilipina Mayor Laut Agung Dwi Handoko, bahwa ditemukan dua paspor WNI saat operasi militer di salah satu rumah di lokasi konflik,” ujarnya.

Setelah mendapatkan informasi dimaksud, pihaknya langsung berkoordinasi dengan Kantor Imigrasi Kelas II Nunukan.

Dari koordinasi itulah dipastikan dua parpor tersebut merupakan milik warga Tasikmalaya, Jawa Barat.

Keduanya terdata menuju ke Filipina pada 15 November 2016. Keduanya dijadwalkan pulang ke Indonesia pada 23 Desember 2016.

“Tetapi sampai sekarang belum ada catatan kepulangannya di Imigrasi. Kami belum tahu, apakah mereka ikut Maute atau tidak? Masih terus kami cari,” katanya.

Paspor dua warga negara Indonesia itu ditemukan terjatuh di salah satu bangunan wilayah konflik Marawi.

Selain kedua warga tersebut, pihaknya juga memastikan nama sembilan warga negara Indonesia yang menjadi perintis jaringan ISIS di Filipina. Mereka juga ikut pada pertempuran bersenjata melawan pemerintah Filipina.

Saat ini pihaknya bersama gabungan aparat TNI Angkatan Darat, Polri dan Imigrasi, memperketat pengawasan di jalur-jalur rawan di perbatasan. T

ak hanya di Pulau Sebatik, pengawasan juga dilakukan hingga ke Krayan dan Kecamatan Lumbis Ogong.

Ari Aryono mengatakan, gabungan aparat ini melakukan razia dan meningkatkan intensitas patroli darat maupun laut.

“Sekaligus melakukan bina negara bagi masyarakat perbatasan sebagai counter terrorism. Kami pasang foto DPO teroris dan terus melakukan sosialisasi. Kami mau efek detern buat jaringan teror. Mereka berfikir di sini ditameng ya, sehingga mereka akan berfikir ulang untuk masuk Nunukan,” ujarnya. (kaltim.tribunnews 7 Juni 2017)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s